Akar Strukturalisme
Penulis : Hengky Roboth
AKADEMOS - Strukturalisme sebagai
sebuah metode filosofis yang berkembang di Prancis pada dasawarsa 60-an
mempunyai latar belakang perkembangan dan pembedahan yang cukup rumit. Ketika
seseorang ingin mempelajari aliran strukturalisme, maka ia akan segera
terbentur oleh beragam kesulitan.
Kesulitan pertama
misalnya, dalam kalangan ilmiah istilah “struktur” dan juga “strukturalisme”
banyak dipakai dan tidak selalu dalam arti yang sama. Kemudian, kesulitan
berikutnya dapat dipersoalkan apakah strukturalisme Prancis merupakan suatu
aliran dibidang filsafat begitu saja. Karena kita ketahui bahwa misalnya Claude Levi Strauss, yang di kenal sebagai bapak strukturalisme prancis adalah seorang
ahli antropologi budaya dan bukan filsuf.
Memang tidaklah mudah
untuk menentukan identitas seorang struturalis. Kesulitan yang ketiga adalah,
dari orang-orang yang digolongkan sebagai strukturalis, seperti kita lihat,
beberapa di antara mereka dengan tegas menolak sebutan “strukturalis”.
Di sini
strukturalisme dimaksudkan sekelompok pemikir yang menarik banyak perhatian
sekitar tahun 60-an, dibawah ini akan dibicarakan salah satu pemikir yang meletakan dasar linguistic modern dan
sekaligus menjadi prinsip dasar yang di gunakan oleh tokoh-tokoh
strukturalisme.
Pembaharuan Linguistic oleh F. de Saussure
Ferdinand de Saussure
(1857-1913) adalah seorang Swiss yang untuk beberapa waktu mengajar di Prancis
dan akhirmya menjadi professor di Jenewa, dimana ia mendirikan apa yang di
sebut mazhab Jenewa.
Buku yang mengakibatkan
namanya menjadi tersohor dibidang linguistic di terbitkan secara anumerta oleh
dua orang muridnya dan diberi judul Course
de Linguistique Generale (1916) (Kursus Tentang Lnguistk Umum). Beberapa
prinsip dasar yang digunakan oleh tokoh-tokoh strukturalisme, berasal dari
teori linguistik yang di uraikan dalam buku tersebut. Ada tiga distingsi atau
pembedaan yang di introdusir oleh Saussure yang mempunyai peranan sangat
penting dalam strukturalisme,yaitu signifiant
dan signifie, langage, parole dan langue, serta sinkroni dan diakroni. Apa yang di maksud oleh ketiga
distingsi tersebut? Mari kita lihat.
Signifiant
dan Signifie
Pembedaan ini merupakan
inti pandangan Saussure tentang tanda. Ada anggapan bahwa suatu tanda benda
menunjuk kepada benda yang ada dalam realitas tersebut. Misalnya, kata 'kucing'
dianggap menunjuk kepada seekor kucing yang sedang makan di hadapan
kita. Tapi menurut Saussure bahwa suatu tanda bahasa bermakna bukan karena
referensinya kepada benda dalam realitas, yang di tandakan dalam tanda bahasa
bukan benda, melainkan konsep tentang benda.
Secara popular memang tidak jarang
dipikirkan bahwa konsep-konsep mendahului kata-kata. Lagi pula menurut
Saussure, konsep itu tidak lepas dari tanda bahasa, tetapi termasuk tanda
bahasa itu sendiri. Maka dari itu menurut Saussure tanda bahasa (seperti
misalnya suatu kata) yang dipelajari oleh linguistik, terdiri atas dua unsur :
le signifiant dan le signifie.
Dalam bahasa Indonesia dapat
diterjemahkan; 'penanda' dan ‘yang ditandakan’. Signifiant (penanda) adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang
bermakna. Jadi signifiant adalah
aspek material dari bahasa: apa yang dikatakan atau ddengar dan apa yang
ditulis atau dibaca.
Signifie adalah
gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, signifie adalah aspek mental dari bahasa. Yang harus diperhatikan
di sini adalah bahwa tanda bahasa yang konkret kedua unsur tadi tidak bisa
dilepaskan.
Tanda bahasa selalu mempunyai dua segi ini ; signifiant dan signifie. Signifiant dan signifie merupakan satu kesatuan, seperti kedua sisi kertas kata
Saussure.
Langage, Parole, dan Langue
Kalau dalam fenomena
bahasa secara umum ditunjukan dengan istilah langage, maka dalam langage harus diperdebatkan antara parole dan langue. Kata parole dimaksudkan
untuk penggunaan bahasa yang individual. Tapi parole tidak termasuk dan dipelajari dalam ilmu lingusitik,
bagaimana cara si A dan si B memakai bahasa tidak termasuk objek ilmu
linguistik. Linguistik hanya menyelidiki unsur lain dari langage, yaitu langue.
Dengan istilah langue dimaksudkan
untuk menunjukan suatu bahasa sejauh merupakan milik bersama suatu golongan
bahasa tertentu.
Menurut Saussure, langue itu harus dianggap sebagai
sistem. Untuk menjelaskan hal ini Saussure memberikaan suatu contoh yang
kemudian menjadi terkenal, yakni bahasa sebagai langue dapat dibandingkan dengan
main catur. Untuk main catur, tidak perlu diketahui bahwa permainan ini berasal
dari Parsi.
Asal-usul permainan catur tidak relevan untuk memahami permainan
itu sendiri. Juga bahkan dari mana buah-buah catur itu dibikin (kayu, gading,
plastik) tidak menyumbang sesuatupun untuk pengertiannya. Permainan catur
merupakan suatu sistem relasi, dimana setiap buah catur mempunyai
fungsinya. Dan sistem ini dikonstituir oleh aturan-aturannya. Menambah atau
mengurangi jumlah buah catur berarti mengubah sistem secara esensial.
Demikianpun bahasa. Bahasa itu bukan substansi, melainkan bentuk saja, kata
Saussure.
Maksudnya, bahan dari
mana bahasa itu terdiri tidak mempunyai peranan. Yang penting dalam bahasa
ialah susunan dalam unsur-unsurnya dalam hubungan satu sama lain.
Sinkroni
dan Diakroni
Anggapan mengenai bahasa
sebagai sebuah sistem ini membawah kita kepada suatu pembedaan lain lagi yang
dikemukakan oleh Saussure. Menurut Saussure, linguistik harus memperhatikan
sinkroni sebelum memperhatikan diakroni.
Asal kata keduanya berasal dari
yunani yaitu khronos (waktu) dan dua awalannya sin- dan dia-masing-masing
berarti “bersama” dan “melalui”. Maka dari itu sinkroni dapat dijelaskan sebagai “bertepatan menurut waktu” dan diakroni sebagai “menelusuri waktu”.
Diakroni adalah peninjauan historis dan sinkroni menunjukan pandangan yang sama
sekali lepas dari perspektif historis, sinkroni
adalah peninjauan ahistoris.
Dari kedua sudut pandang
yang ada antara sinkroni dan diakroni, Saussure menekankan perlunya
pendekatan sinkronis tentang bahasa, bertentangan dengan ahli-ahli linguistik
abad 19 yang hampir semua mempraktekan suatu pendekatan diakronis tentang
bahasa, mereka mempelajari bahasa dari sudut pandang komparatif-historis dengan
menelusuri proses evolusi bahasa-bahasa.
Padahal menurut Saussure karena bahasa
merupakan suatu sistem dalam arti yang diterangkan diatas, linguistik harus
mempelajari bahasa sebagaimana dipakai sekarang ini, dengan tidak mempedulikan
perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang telah menghasilkan
sistem itu. Bisa saja bahwa kata Indonesia sekolah berasal dari kata yunani skhole (artinya waktu senggang), tetapi
kata itu hanya mendapat maknanya karena kedudukannya dalam sistem bahasa Indonesia sebagai keseluruhan dan tidak terkena asal-usul itu.
Dengan demikian,
linguistik tidak saja mengesampingkan semua unsur eksta-lingual, linguistik
melepaskan juga objek studinya dari dimensi waktu. Dengan itu telah dibuka
jalan untuk study yang kemudian disebut “structural”.
Dalam uraian tentang
prinsip-prinsip linguistik Saussure istilah “struktur” belum disebut dan juga
dalam kursus tentang linguistik umum istilah ini tidak dipakai. Baru sesudah
Saussure istilah “struktur” mulai dipakai dalam linguistik. Konon istilah itu
tampil untuk pertama kali tahun 1928 pada kongres tentang linguistik di Den Haag. Kata struktur mudah dikaitkan dengan penjelasan Saussure tentang bahasa
sebagai sistem. Pendekatan structural tentang bahasa mendapat arti: pendekatan
yang menganggap bahasa sebagai sistem dengan ciri-ciri yang dijelaskan diatas.
Dengan demikian kita telah sampai pada latar belakang strukturalisme P rancis.
Kata struktur sendiri
belum cukup untuk mengerti maksud dan jangakuan dari strukturalisme, karena
kata itu dipakai dalam konteks ilmiah yang berlainan-berlainan. Pemakaian kata
struktur dalam strukturalisme disertai seluruh konteks.yang diuraikan tadi : signifiant-signifie, parole-langue, dan sinkroni-diakroni.
Metode strukturalistis
dibidang bahasa ternyata dapat diterapkan pada bidang-bidang lain. Dengan
demikian, strukturalisme telah menjadi gerakan yang jauh lebih luas daripada
studi bahasa. Yang menarik ialah bahwa Saussure sendiri sudah meramalkan
timbulnya suatu ilmu baru yang menerapkan metode linguistik strukturalistis
atas wilayah-wilayah sosial lain daripada bahasa. Ilmu itu disebutnya semiology dan ilmu bahasa hanya
merupakan sebuah cabang dari semiology.
“Strukturalisme” pun sebagai sebuah
metode filosofis digunakan oleh beberapa pemikir Prancis untuk membedah
berbagai bidang misalnya, strukturalisme dan antropologi budaya Claude Levi-Strauss, strukturalisme dan psikoanalisa Jaques Lacan, strukturalisme dan
kritik sastra Roland Barthes, strukturalisme dan marxisme Louis Althusser,
serta strukturalisme dan epistemology dari Michael Foucault.
Beberapa Masalah
“strukturalisme”
adalah aliran yang beraneka ragam coraknya. Tidak terdapat suatu ajaran homogen
yang dianut oleh semua orang yang biasanya tergolong dalam aliran ini. Maka
dari itu kita akan membicarakan beberapa masalah yang dengan salah satu cara
memainkan peranan dalam karya semua pemikir yang termasuk strukturalisme.
Masalah-masalah ini implisit dan eksplisit merupakan suatu reaksi perlawanan
terhadap pendapat-pendapat yang dijunjung tinggi dalam aliran yang mendahului
strukturalisme, yaitu eksistensialisme dan fenomenologi.
Masalah yang pertama
adalah soal subjektifitas. Anggapan modern mengenai subjektivitas berasal dari
Descartes, karena filsuf Prancis yang tersohor ini menunjukan cogito seabagai
titik tolak bagi filsafat.
Bagi Descartes, kesadaran merupakan hakikat manusia.
Manusia menyadari bahwa dia adalah manusia; dan apa yang diperbuat manusia, ia
menyadari bahwa dialah yang memperbuatnya. Dengan kesadaran, manusia secara
langsung hadir pada dirinya. Lain halnya dengan seekor binatang. Seekor anjing
tidak menyadari bahwa dia adalah anjing, dan dia tidak menyadari apa yang dia
perbuat. Dengan penemuan Descartes ini, mulailah apa yang disebut sebagai
filsafat reflektif, yaitu filsafat yang berpangkal pada kesadaran.
Fenomenologi juga
termasuk kedalam filsafat reflektif ini. Bedanya dengan Descartes, fenomenologi
melihat kesalahan Descartes yang menganggap bahwa kesadaran itu bersifat
tertutup. Bagi Descartes kesadaran terkurung dalam dirinya sendiri.
Bagi
fenomenologi kesadaran tidak berarti terkurung pada dirinya sendiri, tetapi
serentak juga kehadiran langsung pada dunia dan pada orang lain. Kesemuanya itu
dikemukakan fenomenologi dalam ajarannya tentang intensionalitas kesadaran.
Namun, tetap saja bagi fenomenologi kesadaran merupakan titik pangkal bagi
filsafat.
Bagi “strukturalisme” semua ajaran yang mengutamakan kesadaran sebagai titik pangkal filsafat
ditolak. Menurut strukturalisme, manusia tidak lagi merupakan titik pusat
otonom yang tidak dapat diasalkan dari sesuatu yang lain. Manusia takluk pada
sistem.
Subjektifitas merupakan buah hasil dari strukturisasi yang tidak dikuasai
oleh manusia. Bagi Lacan, adanya ketidaksadaran membuktikan bahwa manusia telah
bergeser dari pusatnya.
Penolakan atas
subjektifitas inipun diperkuat oleh Michael Foucault dengan mengatakan bahwa :
“Apa yang meresapi kita secara paling mendalam dan apa yang mendahului kita adalah sistem”
Masalah yang kedua
adalah soal humanisme. Fenomenologi, dan terutama dalam bentuk
eksistensialisme, selalu sangat mengutamakan humanisme. Ini dibuktikan dalam
sebuah wawancara dengan majalah La
Quinzaine, Foucault menegaskan bahwa tugas serta tanggumgan filsafat
sekarang ini ialah melepaskan kita secara definitive dari humanisme.
Kemudian,
Althusser memberi sebuah interpretasi baru tentang ajaran Marx, bahwa salah
satu unsur yang ditolaknya adalah hitungan humanisme sebagai salah satu unsur
pemikiran marx. Menurut dia, Marxisme yang sejati tidak bersifat Humanistis.
Dengan demikian, bagi “strukturalisme” seluruhnya kata “humanisme” adalah
berbau jelek.
“Strukturalisme” pun
bukan luput dari kritikan. Yang paling menonjol sebagai kritikus strukturalisme
adalah Jean Paul Sartre dan Paul Ricoeur. Sartre berpendapat bahwa “dengan
mengatakan bahwa manusia terdiri dari struktur-struktur, serentak juga nampak
pengingkaran itu”. Alasannya adalah karena mengatakan bahwa manusia adalah buah
hasil struktur serentak juga berarti mengatasi status struktur.
Subjek adalah
sumber pengingkaran itu. Berbicara tentang struktur dan sistem mengandaikan
adanya subjek. Struktur sendiri tidak berbicara, itu berarti bahwa manusia tidak
terkurung dalam struktur-struktur.
Kritik Ricoeur sejalan
dengan kritik Sartre. Bagi Ricoeur subjektivitas merupakan titik teguh terakhir
yang tidak mungkin dilewati.
Dalam konteks diskusi dengan Levi Strauss ia
megatakan :
“Suatu tata susunan yang dikemukakan sebagai tak sadar bagi saya hanya merupakan suatu tahap yang secara abstrak dilepaskan dari pengertian “aku” oleh “aku” sendiri; tata susunan bahasa pada dirinya sama saja dengan pemikiran yang sudah diluar pemikiran”.
Dengan kata lain, hanya terdapat
ketidaksadaran bagi kesadaran.
Para strukturalis, kata Recoeur, berhak mempelajari bahasa sebagai langue.
Tetapi mereka melampaui batas metode strukturalis, kalau mereka menyamakan
bahasa dengan langue. Disamping
bahasa sebagai langue ada juga bahasa
sebagai parole, yaitu subjek yang
berbicara. Dengan berbicara, subjek melebihi bahasa sebagai sistem tertutup,
karena ia mampu mengatakan sesuatu yang sungguh-sungguh baru.
Berangkat dari
unsur-unsur kritik terhadap strukturalisme tersebut, intinya strukturalisme
dapat diterima sebagai metode filosofis namun harus ditolak sebagai ideologi.
Benar bahwa strukturalisme mampu menyingkirkan pendapat terlampau optimis
tentang manusia seperti pada eksistensialisme Prancis. Namun, dengan kritik itu
jalan tetap terbuka untuk suatu humanisme yang lebih realitis.

Comments
Post a Comment