Socrates : 'Bidan' Dari Athena
Penulis : Krismanuel Pasamboan
(Socrates)
AKADEMOS - Bayangkan saat ini kamu hidup 2400 tahun yang lalu dan tinggal di kota yang menjadi salah satu pusat peradaban dunia pada masa itu. Kota itu bernama Athena.
Saya tidak tahu perasaanmu, bisa jadi kamu merasa sangat senang karena dapat menyaksikan peradaban dunia yang luar biasa.
Namun bisa jadi juga kamu akan merasa bosan karena tidak ada handpone, facebook, twitter, atau instagram yang menjadi tempatmu biasa 'berselancar' setiap hari.
Tetapi satu hal yang pasti. Kamu akan bertemu dengan seseorang yang badannya pendek, sedikit gemuk, mulutnya lebar, hidungnya pesek dan matanya menjorok keluar.
Dia dijuluki Gadfly of Athena atau Lalat dari Athena, karena dia selalu muncul dimana saja, baik itu di pasar, di taman, dan tempat umum lainnya.
Dari ciri-ciri fisiknya tampak berbeda jauh dari sosok pemuda-pemuda Yunani yang kita kenal, yang umumnya bertubuh ideal dan terkenal menawan.
Tetapi jangan diremehkan, peribahasa don't judge a book by its cover mungkin sangat tepat dilekatkan padanya.
Mari kita berkenalan sedikit dengannya, manusia paling bijaksana di Athena menurut Oracle of Delphi.
Dia adalah orang yang akan sangat berpengaruh di kemudian hari. Pikiran dan jalan hidupnya akan terus direnungkan hingga ribuan tahun sesudahnya.
Kamu akan sering menjumpainya dalam buku-buku filsafat yang ditulis jauh sesudah kematiannya.
Bahkan sedemikian besar pengaruhnya oleh A.N Whitehead akan menyebut bahwa karakter filsafat Eropa hanya catatan kaki dari Plato.
Sedangkan pikiran-pikiran Plato banyak dipengaruhi oleh orang aneh yang berkeliaran di pasar, di taman, dan di tempat-tempat umum tersebut.
Dia sendiri adalah guru dan kakek guru dari dua filsuf terbesar sepanjang masa yaitu Plato dan Aristoteles.
Nama orang itu adalah Socrates, seorang yang lahir di Athena pada tahun 470 SM dan meninggal pada tahun 399 SM.
Anak dari Sophroniskos seorang pembuat patung dan ibunya bernama Phaenarete adalah seorang bidan.
Dia sempat mengikuti jejak ayahnya membuat patung, tetapi kemudian memilih untuk bekerja seperti ibunya sebagai seorang 'bidan', bedanya dia bukan membantu orang lain melahirkan seorang anak, melainkan membantu orang lain melahirkan pengetahuannya sendiri lewat dialog yang dilakukannya bersama siapapun yang dijumpainya.
Socrates tidak pernah tampil untuk menggurui orang lain, kesan yang ditampilkannya lebih seperti seorang yang selalu ingin belajar dari orang lain yang diajaknya bicara.
Dia tidak memberi kuliah seperti layaknya seorang guru melainkan mengajak orang lain untuk berdialog.
Karena itu ilmunya disebut ilmu Kebidanan atau Maieutik. Dia memposisikan diri sebagai seorang yang membantu orang lain untuk melahirkan pengetahuannya sendiri lewat pertanyaan-pertanyaannya yang dikenal dengan Ironi Socrates.
Sebab bagi Socrates pengetahuan yang sejati datang dari dalam diri sendiri, tidak ditanamkan oleh orang lain.
Dia mendorong orang lain untuk menggunakan akalnya demi melahirkan pengetahuannya. Pengetahuan itu sangat penting, karena bagi Socrates budi adalah tahu.
Dalam sepenggal kalimat itu, Socrates hendak mengatakan bahwa tuntutan terbesar dari pengetahuan adalah kewajiban untuk hidup berbudi.
Siapa yang mengetahui hukum haruslah bertindak sesuai dengan pengetahuan itu, tidak mungkin ada pertentangan antara keyakinan dan pengetahuan.
Karena budi adalah tahu, maka siapa yang tahu akan kebaikan dengan sendirinya akan berbuat baik. Itulah inti dari ajaran etika Socrates.
Socrates tidak pernah menuliskan filsafatnya. Dia bukan seorang pengajar filsafat, tetapi dia adalah orang yang hidup berfilsafat, atau lebih tepatnya menghidupi filsafatnya.
Filosofi Socrates bukan mengalir lewat tinta pena di atas kertas melainkan mengalir lewat setiap sendi dalam kehidupannya.
Bagi Socrates filsafat bukan tentang isi, bukan tentang hasil, bukan ajaran yang berdasarkan dogma, melainkan fungsi yang dihidupi.
Filosofi Socrates adalah mencari kebenaran. Oleh karena dia mencari kebenaran, dia tidak mengajarkannya. Dia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir yang sejati.
Socrates hidup bersamaan dengan kamu Sofis. Jika kamu masih membayangkan berada di Athena, mungkin kamu pun akan menjumpai mereka atau sekurang-kurangnya akan mendengar tentang mereka.
Orang-orang yang merasa pandai dan bijaksana, yang mengajarkan pengetahuan untuk mendapatkan uang, mereka merasa tahu segala hal dan mengajarkannya, Sofistik sendiri berasal dari kata Sophos yang berarti pandai dan cerdik.
Kaum Sofis mengajarkan “kebenaran yang sebenar-benarnya tidak dapat dicapai”. Bagi mereka setiap prinsip dapat dibenarkan lewat retorika dan persetujuan orang banyak.
Bukankah pada masa ini begitu banyak orang demikian kita jumpai yang begitu merasa pandai, tahu banyak hal dan tampil menjadi guru bagi orang lain bahkan menjadi hakim bagi sesamanya?
Socrates menolak pandangan itu dia menganggap hal itu melemahkan rasa tanggung jawab, karena itu dia hidup untuk memperbaiki pandangan masyarakat yang sudah dirusak oleh ajaran para Sofis itu.
Socrates menjadi antitesis para kaum Sofis, dia mengatakan hanya satu hal yang saya tahu yaitu saya tidak tahu apa-apa, dan dia bukan orang yang suka mencari keuntungan.
Seperti yang ditulis oleh Plato bukunya yang berjudul "Phaideon". Beberapa saat setelah Socrates meminum racun cemara.
Socrates berkata pada Crito muridnya “Crito, Aku berhutang seekor ayam kepada Aesculaap, jangan lupa membayarnya kembali”. Menjelang akhir hayatnya Socrates tetap memikirkan hak orang lain.
Socrates sering berjalan di pasar tanpa membeli apa-apa, selain untuk mencari orang untuk berdialog Socrates juga berkata saya masuk pasar hanya ingin mengamati bahwa betapa banyak barang-barang yang saya tidak butuhkan dijual di pasar itu.
Socrates ingin mengatakan bahwa barang-barang duniawi itu sebenarnya tidaklah begitu penting dalam hidup.
Tampak sedikit berbanding terbalik dengan zaman ini bukan? dimana begitu mudahnya kita tergoda untuk membeli barang-barang yang ada di pasar, mall, atau tempat perbelanjaan lainnya, padahal barang-barang itu sebenarnya tidak begitu dibutuhkan.
Socrates disebut sebagai salah satu martir dalam dunia ilmu pengetahuan yang begitu teguh memperjuangkan ilmu dan pengetahuannya dan setia pada kebenaran yang diyakininya hingga akhir hayatnya.
Socrates meninggal karena dihukum mati dengan tuduhan proliferasi paham atheisme, dan mengajarkan kaum muda Athena dengan pengaruh buruk. Dia dihukum dengan cara meminum racun cemara.
Sebenarnya Socrates bisa saja menghindari hukuman itu dan meninggalkan Athena, tetapi dia lebih memilih untuk setia dengan keyakinannya dengan segala resikonya dan memilih untuk menjalankan putusan pengadilan.
Socrates meninggal dunia dalam memperjuangkan kesetiannya pada pengetahuan. Nenek moyang para filsuf itu sampai akhir hayatnya dikenal karena keluhuran budinya, jujur, adil dan baik.
Sedemikian adilnya sehingga tidak pernah berlaku salim pada orang lain. Begitu pandai menguasai dirinya sehingga tidak pernah memuaskan hawa nafsunya dengan merugikan kepentingan umum. Dia tidak pernah khilaf dalam menimbang baik dan buruk. Begitulah Socrates menghidupi filsafatnya.
Setelah selesai dengan imajinasimu dan membayangkan sosok Socrates dengan sebagian dari kebijaksanaanya.
Kembalilah ke duniamu hari ini, dan mulailah menghidupi pengetahuanmu. Jadikan filsafat sebagai pedoman untuk hidup bijaksana bukan sekadar tumpukan teori-teori yang rumit.

Comments
Post a Comment