Abstraksi Kematian Dalam Perspektif Filosofis
Penulis : Josua Rawis
AKADEMOS - Kematian. Sesuatu yang dijauhkan, tapi selalu pasti
mendekat. Kita sering terbenak kematian akan ada di masa tua, tapi bagaimana
dengan maut dan penyakit apakah kita selalu siap? atau begini, bagaimana jika
hidup dibuat menjadi suatu obsesi saja untuk menggapai suatu ketenangan
jiwa?
Hasrat, ketika berbicara persoalan hasrat berarti ada pemenuhan
hidup yang harus dicapai untuk memenuhi obsesinya. Bagaimana jika makna tidak
ada lagi? Bukankah dengan melampiaskan kekesalannya bunuh diri terkadang
menjadi pilihan?
Maka dengan ini, obsesi hidup hanya menghantar manusia kepada
suatu hal yang pada akhirnya tidak dipertanggung jawabkannya juga. Keterbatasan
makna kematian yang terbesit ini, membuat kita harus menulusuri lebih jauh lagi
tentang apa dan bagaimana tentang persoalan yang tidak dapat disangkal ini,
yaitu kematian dan berbagai momoknya.
Epikuros
"Jauh sebelumnya
seorang filsuf beraliran sinisme Athena, Yunani (341 SM - 270 SM) Epikuros,
sudah memberikan makna terhadap kematian. Berupa gagasan, "atraxia"
(ketiadaan ketakutan, kegelisahan, ataupun kecemasan) dan "aponia"
(ketiadaan rasa sakit).
Ia mengajarkan bahwa akar dari segala penderitaan adalah penolakan
kematian dan kecenderungan manusia untuk membayangkan bahwa kematian itu
mengerikan dan menyakitkan. Menurutnya, hal ini telah menimbulkan kecemasan
yang tidak perlu. Epikuros sendiri berpandangan bahwa kematian adalah akhir
dari tubuh maupun jiwa, sehingga tidak perlu ditakuti.
Epikuros beranggapan bahwa "filsafat ada untuk mewujudkan
kehidupan yang tenang", maksudnya bertolak dari momok kematian yang
menghantui dan merusak jiwa yang tenang. Maka gagasan atraxia dan aponia-lah,
sebenarnya yang harus ada dan menjauhkan stigma kematian yang menakutkan.
Epikuros juga mengajarkan bahwa orang tetap perlu berbuat baik
kepada sesama, karena jika mereka bertindak jahat, rasa bersalah akan
menghantui mereka dan membuat mereka tidak dapat mencapai ataraxia.
Gagasan kematian Epikuros inilah yang pertama kali berkontribusi
memaknai kematian secara filosofis, meskipun dalam satu sisi epikuros adalah
seorang religius yang mempercayai entitas "dewa-dewa", karena memang
dia hidup diera mitosentris Yunani. Tapi, karena gagasan rasionalnya, tak bisa
dipungkirinyalah makna kematian epikuros menjadi acuan refleksi terkait konteks
pemaknaan kematian."
Lois Leahy
Sejauh ini memang banyak anggapan yang terbesit dalam memaknai
persoalan kematian dari berbagai perspektif filsafat, terutama 'filsafat
manusia' yang juga merupakan salah satu cabang epistemologi filsafat. Kematian,
oleh manusia selalu dicakup dari dua unsur dualis antara tubuh dan jiwa.
Seperti makna kematian yang ditulis oleh Lois Leahy. Leahy, menjadi menarik
untuk dibahas karena beliau adalah seorang teolog juga akademisi yang telah
banyak menuangkan karyanya mengenai manusia, dan filsafat manusia.
Louis Leahy, seorang dosen sekaligus tokoh filsafat
kontemporer, yang dalam sebuah situs ensiklopedia internasional sudah diakui
sebagai seorang filsuf, menaruh perhatian yang cukup besar perihal
kematian.
"Pada salah satu kuliah filsafat di jenjang S1, seorang
Dosen pernah melontarkan satu pertanyaan pada para Mahasiswanya, begini:
“Apakah yang paling dekat dengan Anda?” Seluruh mahasiswa diminta memberikan
jawaban.
Tentulah
bermacam-macam jawaban dari para mahasiswa yang baru saja lulus dari Sekolah
Menengah Atas tersebut. Beberapa dari mahasiswa menjawab orang tua, beberapa
menjawab Tuhan, bahkan ada yang menjawab teman yang duduk di bangku sebelah.
Semua meyakini jawabannya sebagai jawaban yang paling tepat.
Namun
semua menjawab dengan jawaban yang seharusnya ditanyakan dengan pertanyaan
‘Siapa’ dan bukan ‘Apa’, jelaslah ada kekeliruan atas jawaban-jawaban yang
diberikan. Lalu dosen tersebut pada akhirnya menjawab pertanyaan yang beliau
lontarkan, ia berkata: “Yang paling dekat dengan Anda adalah kematian."
Suatu
keniscayaan, tapi dijumpai sebagai suatu misteri karena pada dasarnya kematian
dipersoalkan sebagai faktor perennial, semua itu karena landasan ketakutan
manusia terhadap ajal yang begitu dekat. Dengan itu, manusia lebih
menyembunyikan perasaannya untuk merenungkan tentang kematian, karena manusia
berjalan atas dasar rasa bersalahnya. Makanya seringkali saudara kandung
kelahiran ini diabaikan, dan bagaimana bisa ? Mungkin saja nanti, ketika momok
menakutkan itu datang lewat vonis kematiannya, seketika itu pula manusia akan
tersadar dan mulai akrab dengan saudara kelahirannya itu yaitu kematian.
Steve
Jobs, seorang CEO perusahaan gadget ternama, pernah melakukan sebuah renungan
tentang kematian yang ia sisipkan di antara pidatonya setelah ia divonis
menderita kanker, berikut penggalan pidato Steve Jobs:
"No one wants to die. Even people who want to go to
heaven don't want to die to get there. And yet, death is the destination we all
share. No one has ever escaped it, and that is how it should be, because death
is very likely the single best invention of life. It's life's change agent. It
clears out the old to make way for the new.”
Kutipan
tersebut merupakan refleksi Steve Jobs tentang kematian. Dapat dilihat bahwa ia
memilih untuk menaruh respon positif sekaligus pasrah terhadap kematian. Sebuah
sikap yang dilandasi kesadaran bahwa tak ada satupun yang bisa menghindarkan
diri dari kematian. Perbincangan tentang manusia, tentu saja akan mengarah dan
sangat mungkin berakhir dengan perbincangan tentang kematian.
Perbincangan
tentang kematian memang bukanlah hal yang sederhana baik karena ketidakjelasan
yang disebabkan oleh ketiadaan pengalaman individu, maupun dikarenakan
subjektivitas perasaan yang timbul akibat melihat kematian manusia lain.
Corak
Pemikiran Leahy
Corak
pemikiran Leahy dapat digambarkan dalam berbagai pendapatnya terkait dengan
realitas yang ada. Sebab ini membahas sekilas pandangan Leahy tentang manusia.
Manusia adalah makhluk yang terbentuk atas susunan jiwa dan badan, atau jasmani
dan roh.
Leahy
menganggap pentingnya pembahasan tentang manusia melalui perspektif filosofis
yang tersistematis dalam sebuah pemikiran filsafat manusia dengan beberapa
alasan, sebagai berikut:
- Manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan istimewa beserta yang istimewa sampai batas tertentu.
- Manusia memiliki tugas menyelidiki hal-hal secara mendalam.
- Manusia memiliki kesadaran bahwa manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Salah satu perbedaannya ialah bahwa manusia dilengkapi dengan tanggung jawab.
Manusia
adalah makhluk paradoksal. Paradoksal dalam konteks ini adalah sifat yang
seolah-olah berlawanan atau bertentangan tetapi pada dasarnya mengandung sebuah
kebenaran. Manusia disebut paradoksal karena tersusun atas roh dan badan,
bersifat subsitens dan terbuka, serta bereksistensi.
Keberadaan
manusia lazim dijelaskan dengan cara memperbandingkan perbedaan antara manusia
dan binatang. Susunan genetik, kemampuan-kemampuan motorik, afektif, serta
berbagai indikator lain yang digunakan oleh manusia untuk membedakan dirinya
dengan binatang. Salah satu buktinya adalah munculnya tesis penyebutan manusia
sebagai animal symbolicum.
Pada
dasarnya, manusia memang memiliki kesamaan dengan makhluk hidup lain, baik
binatang maupun tumbuhan. Akan tetapi, manusia tetap memiliki kelebihan
dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain. Kodrat esensial makhluk hidup
adalah sebuah substansi natural yang terbentuk dari badan dan jiwa, dengan
organ yang menyusun kesatuan kompleks. Kodrat esensial tersebut dalam diri
manusia dilengkapi dengan kesadaran terhadap dirinya.
Upaya
pencarian jati diri manusia merupakan hal yang paling membedakan antara manusia
dan binatang. Pada saatnya, kesadaran dan pencarian jati diri manusia akan
mengantarkan manusia pada pemahaman tentang hakikat dirinya. Kesadaran manusia
akan dirinya dan upaya pencarian jati diri manusia merujuk pada rumusan akan
penyusunan manusia.
Jiwa
dan Badan
Jiwa
adalah bagian inti dari hidup manusia dan tidak bersifat materi serta berfungsi
untuk mengenali dan menemukan segala signifikansi kehidupan. Jiwa yang tak
dapat ditangkap secara langsung dengan indra manusia, akan menampakkan
gejalanya melalui badan yang bersifat indrawi sehingga memungkinkan untuk
merealisasikan kehadiran jiwa.
Jiwa
dan badan adalah suatu kesatuan esensial yang solider satu sama lain. Jiwa
tidak dapat dipahami sebagai unsur yang terpisah dari badan jasmani, karena
keduanya tidak dapat dipisahkan. Badan bukan semata-mata suatu wadah untuk
membatasi jiwa, tetapi badan merupakan sarana eksistensi manusia.
Letak
jiwa dalam suatu badan tidak berada seperti titik pada sebuah kertas, melainkan
berada di setiap sudut badan, sebagai bagian setiap detil keutuhan badan. Jiwa
adalah sebuah ide yang berada pada puncak hirarki yang dimiliki manusia. Secara
tidak langsung, Leahy menyetujui konsep dualisme jiwa dan badan yang digagas
oleh Plato.
Menurut
Leahy, keberadaan jiwa adalah nyata, namun hanya dapat diketahui di dalam –
melalui – badan. Jiwa memiliki eksistensi dan bersifat unggul, dan demikian
juga dengan badan. Badan ada sejurus dengan jiwa, tetapi ‘ada’ yang berbeda.
Jiwa
dan badan hendaknya menyatu menjadi suatu susunan manusia yang harmonis. Leahy
menganalogikan hubungan antara jiwa dan badan seperti harmonisasi musik dari
permainan kecapi. Muncul bentuk baru harmonisasi musik kecapi, namun kemunculan
yang baru itu tidak serta merta menghilangkan peran dari kedua unsur
pembentuknya, yakni kecapi dan musik.
Leahy
selanjutnya menjelaskan bahwa dualisme yang dimaksud tidaklah sama dengan yang
digagas oleh Plato. Konsep dualisme Plato menempatkan jiwa lebih tinggi
daripada badan, dimana badan hanyalah sarana bertindak sementara jiwalah
mengeksekusi pilihan.
Leahy
tidak setuju pada pandangan tersebut dengan anggapan bahwa badan juga berperan
dalam pengambilan keputusan atau menentukan kebijakan. Lebih lanjut ia menjelaskan
bahwa jiwa juga berperan dalam tindakkan yang dilakukan badan, yakni memberikan
arah pada tindakan yang dilakukan oleh badan melalui sarana ‘mata batin’ dan
naluri.
Ketakutan
Akan Kematian
Terdapat
dua macam pandangan besar tentang ketakutan terhadap kematian. Pertama,
pandangan yang berpendapat bahwa manusia dapat menerima kenyataan akan kematian
dikarenakan adanya harapan akan kebakaan personal. Kedua, yaitu pandangan
kepercayaan terhadap tidak adanya kehidupan baka, dan meski demikian manusia dapat
mengatasi ketakutan akan kematian itu.
Jiwa
manusia memiliki sifat spiritual, yaitu apa yang disebut dengan transendensi
terhadap tubuh, sehingga penalaran filosofis mengenai kematian erat sekali
hubungannya dengan proses kreatif yang dilakukan oleh Tuhan. Leahy juga
memberikan argumen-argumen yang dipakai untuk membahas masalah kekekalan jiwa,
beberapa diantaranya yaitu:
- Argumen hasrat untuk hidup. Hasrat diibaratkan dengan kita yang selalu berjalan dalam hidup namun kita tidak pernah merasa seakan-akan sudah melewati jalan itu sehingga sudah tiba saatnya meninggalkan jalan itu. Ada satu sisi di dalam diri kita, kita abadi.
- Argumen hasrat kepada kebahagiaan. Jiwa harus diperlengkapi dengan kehidupan setelah mati karena kehidupan di dunia materi seringkali tidak sempurna. Jadi, kemungkinan adanya kebahagiaan total yang dirindukan oleh semua orang menuntut kekekalannya.
Sedangkan
pandangan dari kelompok kedua yang mengatasi ketakutan akan kematian tanpa
adanya keyakinan akan kebakaan jiwa diwakili oleh beberapa pandangan, yaitu:
- Epicurus dan Pengikutnya. Menurut Epicurus, kematian tidak perlu ditakuti karena kematian sama halnya dengan tidur, yaitu hilangnya kesadaran, sehingga kematian tidak menyakitkan.
- Kaum Stoic. Seneca mengatakan bahwa manusia harus memikirkan kematian dengan cara yang tepat, yaitu selalu mengingatkan diri sebagai bagian dari alam dengan peranan yang harus diterima.
- Spinoza. Manusia harus mengalihkan perhatian dari kematian dengan cara memusatkan perhatian pada kehidupan. Dengan demikian ketakutan akan kematian dapat diusir.
Kematian
dan Prosesnya
Terdapat
lima tahapan kematian yang diungkapkan oleh Elisabeth Kubler- Ross, M. D.
Tahapan-tahapan itu dirumuskan berdasarkan hasil observasinya dari para
penderita penyakit kanker, yaitu:
a) tahap penyangkalan dan
menyendiri,
b)tahap marah,
c) tahap tawar menawar,
d) tahap depresi,
e) tahap menyerah dan pasrah.
Tahapan-tahapan
digagas oleh Kubler-Ross berbicara mengenai kondisi khusus tentang kematian
yang datang pada kondisi orang-orang yang telah didiagnosis akan mati.
Permasalahannya adalah bagaimana dengan orang-orang yang tidak mendapatkan
vonis kematian dari dokter ataupun manusia lain selain dirinya? Bagaimana
proses kematian bagi orang-orang yang disebut sebagai kematian biasa atau
normal tanpa penyakit.
Leahy
mempunyai pandangan sendiri mengenai proses kematian ini dan mengungkapkannya
dalam dua tahap yang sejatinya satu proses saja. Leahy, menyebut tahap pertama
dengan istilah, ‘kematian yang ditantang’. Tahapan ini kemudian
berproses menjadi kepasrahan yang menyebabkan kematian tidak lagi terasa
menakutkan.
Leahy
menyadari bahwa rasa ingin, atau yang ia disebut sebagai perasaan menantang,
bukanlah sebuah obsesi karena obsesi hanya bisa berbentuk ketakutan. Misalnya,
ketakutan pantologis terhadap kematian.
Saat Kematian
Setelah
menjalani tahapan menuju kematian yang harus dipertimbangkan, sebagaimana
halnya mempertimbangkan kehidupan, maka ada pula tahapan ketika kematian itu
benar-benar terjadi. Dalam pemikiran Leahy, indikator tahapan tersebut ialah
bahwa untuk menghadapi kematian perlu suatu keberanian.
Maka
sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh Leahy adalah kematian adalah pada saat
kita menjadi pasrah pada apa yang akan hilang. Secara biologis tentu akan
sangat banyak yang bisa menjelaskan bagaimana kira-kira saat kematian ini akan
tiba.
Hal
ini sebagaimana dijelaskan dalam konsep kematian secara klinis, yakni keadaan
dimana kegiatan pernafasan, jantung, dan reaksi otak kelihatan berhenti. Dengan
memberikan waktu antara 5 (lima) hingga tiga puluh menit sebagai waktu tenggang
sehatnya otak manusia. Namun bagaimana dengan pandangan-pandangan yang bersifat
kejiwaan dalam memahami kematian ini?
Leahy,
sebagai seorang pemikir yang mempercayai kekekalan jiwa, tentu saja menilai
kematian bukan akhir dari segala-galanya. Apabila badan, sebagaimana yang
diakui oleh Plato, merupakan kerangkeng kebebasan hakiki manusia maka kematian
adalah zaman permulaan dan kebebasan.
Arti Kematian
Lalu apa
sebetulnya yang disebut kematian? Ada tiga pandangan utama untuk menjelaskan
tentang kematian. Pertama, pandangan menurut Heidegger, mengungkapkan kematian
sebagai sesuatu yang merupakan perpanjangan-tangan dari proses hidup manusia
yang memang tidak berkesudahan dalam perangkap “belum”. Oleh karena itu hidup
menurut Heidegger adalah sebuah proses menuju kematian. Kemudian menurut
Sartre, kematian adalah sekonyong-konyong yang bersifat buta dan sangat absurd
karena ia bersifat pasti namun tidak menyediakan pilihan. Sedangkan menurut
Jaspers, kematian adalah akhir dari proses hidup karena manusia telah berada
pada kondisi pemenuhan.
Pandangan
Leahy menyatakan bahwa pemikiran yang matang tentang kematian, pertimbangan,
atau bahkan keberanian ketika menantang kematian bukanlah sesuatu yang
menghancurkan kesadaran manusia. Hal yang menghancurkan kesadaran manusia,
dalam kaitannya dengan kematian, justru jika kematian dianggap sebagai peniadaan
dari hidup sendiri.
Dengan
demikian, maka sebenarnya Leahy sepakat dengan dua dari tiga filsuf di atas,
yang memandang bahwa kematian itu bersifat pasti dan manusia menuju ke arahnya.
Selain itu, dalam pandangan Leahy, manusia akan mati secara terhormat jika
telah berhasil memikirkan, merancang dan mempertimbangkan secara matang tentang
kematian. Itulah yang dinamakan Leahy dengam kematian setiap saat.
Kematian
setiap saat adalah semacam penjelasan reflektif dalam melihat bagaimana sebuah
akhir itu sebetulnya terkandung di dalam proses. Kematian-kematian yang berada
di dalam proses inilah yang disebut sebagai keputusan-keputusan final. Maka
apapun yang telah terjadi dan berakhir dalam kehidupan, sejatinya merupakan
kematian, dan itulah yang dimaksud keputasan final yang sebenarnya adalah
kematian. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sebetulnya tidak ada kematian
yang benar-benar mendadak, karena ketika seorang manusia sadar bahwa setiap
saat adalah kematian baginya melalui keputusan final, maka kematian dalam
artian keputusan paling final-pun telah ia rencanakan.
Leahy
membandingkan pendapat tersebut dengan menggambarkannya dalam dua macam kondisi
yaitu kematian dalam paham tradisional dan kematian dalam paham kosmis.
Kematian dalam paham tradisional sebetulnya mirip dengan konsep kematian setiap
saat yang melibatkan keputusan final. Bahwa seorang manusia diminta untuk
mengenal dirinya dengan begitu mendalam sehingga pada gilirannya kelak maka ia
bisa mendapatkan sebuah pengetahuan atau kesadaran intuitif akan dirinya secara
langsung, yang berlangsung dalam hakikatnya sendiri.
Penjelasan
yang diberikan oleh Leahy mengacu pada praktek-praktek yang dilakukan oleh
orang-orang yang menganut paham asketis. Melalui praktek yoga mereka bisa
memberitahu tentang out of the body experience yang jika kita artikan adalah
keluar dari tubuh. Proses keluar dari tubuh ini tentu saja sangat identik
dengan kematian. Pasalnya adalah praktek keluar dari tubuh ini dilakukan atau
bisa dipraktekkan ketika kita masih hidup dan belum melewati titik pemberian
keputusan paling final dari kehidupan ini. Maka seseorang yang melakukan
praktek yoga akan sering mengalami kematian-kematian yang meskipun
berbeda corak dengan konsep kematian setiap saat dalam kondisi keputusan final,
namun secara mendasar kedua hal ini sangatlah mirip.
Sementara
itu dalam pembahasan mengenai paham kosmis, Leahy mengungkapkan hal yang mirip
dengan proses daur ulang. Kondisi dimana seorang manusia yang memiliki jiwa dan
kemudian tercerai berai dengan kematian padahal jiwanya mengikut pada badannya.
Paham ini diungkapkan oleh orang-orang yang mempercayai teori evolusi seperti
Teilhard De Chardin dan Ladislas Boros.
Penjelasan
mengenai kondisi daur ulang ini adalah ketika jiwa yang bersatu dengan badan
kemudian tercerai berai dan terputus pada banyak bagiannya, sejatinya akan
kembali ke kosmos untuk menjadi sebuah realitas yang baru meskipun berbeda.
Dengan demikian, kematian adalah sebuah hal yang terjadi berulang kali dan
terjadi pada segala sesuatu yang ada di dalam alam semesta ini.
Arthur
Schopenhauer
Bagaimana
Perspektif Kematian Filosofis menurut seorang Filsuf Pesimistik ?
"Kehendak Dan Kematian, Arthur
Schopenhauer."
Beranjak dari perspektif kematian filosofis dari seorang
filsuf kontemporer yang juga teolog, Louis Leahy yang lebih ke pandangan
dualitas tubuh dan jiwa sebagai suatu kesatuan.
Schopenhaur, berbeda lagi. Schopenhauer menolak dualitas
jiwa-tubuh, ia menyebut jiwa dan tubuh sebagai kehendak.
"Arthur
Schopenhauer dikenal sebagai seorang filsuf yang pesimistik. Mengapa demikian?
Karena bagi Ia kehidupan tak lain dan tak bukan adalah suatu bentuk penyiksaan
diri, hasrat yang membelenggu dan tak pernah terpuaskan.
Menurutnya,
manusia akan terus-menerus mengikat dirinya pada keduniawian yang menurut
mereka adalah kebahagiaan, padahal apa yang mereka kira sebagai kebahagiaan
tersebut tak lebih dari sekadar ilusi semata. Atas dasar inilah kiranya mereka
mengembel-embeli filsuf satu ini dengan sebutan pesimistis. Pemikirannya
dipengaruhi oleh Kant dan Buddha, aliran Schopenhauer sejatinya baraliran Kantianism
dan Idealism."
Terlepas
dari segala penilaian terhadapnya, Schopenhauer sejatinya mempunyai pemikiran
yang menarik dan patut ditelaah lebih lanjut. Terlebih, ia juga dikenal sebagai
rival Hegel yang mempunyai hegemoni kuat pada zamannya. Kendati Schopenhauer
semasa hidupnya kalah saing dari rivalnya tersebut, setidaknya, pemikirannya
berpengaruh kuat pada muridnya, Nietzsche, seorang yang dalam sejarah filsafat
barat mempunyai pengaruh kuat pada pemikir-pemikir setelahnya. Bahkan Nietzsche
dianggap sebagai pembuka jalan dari zaman modern ke zaman post-modern. Dengan
demikian, secara tidak langsung, Schopenhauer mempunyai peran signifikan dalam
atmosfer pemikiran postmodern lewat ‘muridnya’ tersebut.
Selain
Nietzsche, ada nama-nama lain yang cukup kuat terpengaruh oleh Schopenhauer,
seperti Richard Wagner, Thomas Mann dan Herman Hesse. Kendati ketiga nama
tersebut bukan termasuk dalam jajaran nama filsuf, setidaknya, Schopenhauer
berhasil memberikan warisan pemikiran tidak hanya pada bidang filsafat saja,
melainkan merambah ke bidang sastra dan musik. Bahkan dua nama yang terakhir
disebut berhasil menggondol penghargaan bergengsi di bidang sastra, yaitu nobel.
Sebelum
berbicara lebih jauh mengenai kematian dalam pemikiran Schopenhauer, alangkah
baiknya jika terlebih dahulu kita memahami bagaimana ia memandang realitas.
Karena dalam pergumulan filosofis, bagaimana seorang filsuf memandang realitas
menjadi hal yang fundamental, atau dalam istilah filosofis, ontologis. Maka
dari itu, tulisan ini akan sedikit memaparkan bagaimana pijakan ontologis
Schopenhauer.
Kematian
itu bukanlah persoalan dari tiada menjadi ada lalu menjadi tiada lagi seperti
yang dikatakan Epicurus, melainkan tentang berakhirnya penderitaan atas
belenggu fenomena.
Schopenhauer,
bukanlah seorang pemikir yang independen, artinya ia juga terpengaruh oleh
pemikir-pemikir yang mendahuluinya, yaitu Immanuel Kant, Plato, dan Buddha.
Pemikiran ketiga tokoh tersebut berhasil dielaborasikan dengan apik oleh
Schopenhauer. Nampak pemikiran Kant begitu mencolok pada pandangan metafisis
Schopenhauer, Pemikiran Plato terlihat pada pandangannya perihal seni,
sedangkan pemikiran ala buddhisme nampak pada bagaimana ia menanggapi
kehidupan.
Kant,
pemikir kondang yang berhasil membuat revolusi tanpa tumpasan darah, mempunyai
gagasan bahwa dunia terbagi menjadi dua bagian. Yang pertama ia sebut dengan
fenomena (appereance thing), tataran yang sanggup dijangkau oleh rasio manusia.
Sedangkan yang kedua ialah noumena (the thing-in-itself), pada tataran ini
rasio manusia tidak sanggup untuk menjangkau. Kant berpendapat bahwa sesuatu
yang dapat dijangkau oleh rasio manusia (fenomena) hanyalah apa yang ada dalam
ruang dan waktu, sesuatu yang bersifat experiencible, atau apa yang dapat
dipersepsi langsung melalui indra.
Bagaimana
dengan Schopenhauer? ia mengadopsi gagasan Kant perihal dua bagian itu dengan
sedikit modifikasi. Polanya tetap sama antara noumena dan fenomena. Pada
tataran fenomena, Schopenhauer menyetujui, seperti halnya Kant, bahwasanya
keberadaan objek material bertopang pada ruang dan waktu. Dalam ruang waktu
juga terdapat kausalitas. Akan tetapi, Schopenhauer tidak memandang seperti
halnya para realis pada tataran ini, ia justru beranggapan bahwa objek material
tidak akan eksis sejauh tidak ada interaksi antara subjek dan objek—hal ini
sangat bertentangan dengan kaum realis.
Lalu
jika eksistensi suatu objek material diukur dari adanya subjek yang
menginteraksi, bagaimana jika ada seseorang—katakanlah Si A dengan Si B—Jika Si
A melihat meja di dalam ruangan berbentuk kotak sedangkan Si B tidak pernah
melihat meja berbentuk kotak melainkan bundar, bukankah ini menjadi problematis?
Ternyata Schopenhauer sudah memikirkan hal ini di dalam disertasinya yang
berjudul The Fourfold Root. Perihal problematika antara Si A dan Si B,
Schopenhauer menjawabnya dengan argument ‘prinsip individuasi’ (principium
individuationis). Prinsip ini memandang problematika yang dialami antara Si A
dan Si B hanyalah permasalahan bagian ruang dan waktu. Di mana Si A dan Si B
sejatinya tidaklah keliru, hanya saja pengalaman mereka yang terbatas. Artinya,
Si A dan Si B terestriksi oleh ruang dan waktu, misal Si A melihat meja kotak
dalam ruangan di Kota X dan Si B melihatnya di Kota Y.
Sedangkan
mengenai noumena, jika Kant mengatakan bahwa Tuhan, jiwa, dan substansi yang
ada pada tataran ini—atau dalam istilah Kant, ‘sesuatu yang ada pada dirinya
sendiri’, ada juga yang mengatakan kalau Kant juga menyebutnya dengan X, atau
sesuatu yang tidak diketahui—Schopenhauer menyebutnya sebagai kehendak.
Kehendak ini yang dinamakan oleh Schopenhauer sebagai apa yang ada dalam
dirinya (The Thing in-itself). Kendati konsep kehendak ini sukar untuk
dipahami, bukan berarti tidak dapat dijelaskan sama sekali. Kehendak dapat
memanifestasikan dirinya dalam fenomena lewat simtom-simtom. Melalui pendekatan
terhadap manifestasinya tersebutlah kehendak dapat sedikit terjelaskan. Schopenhauer
menyebutnya dengan sebutan manifestasi kehendak untuk hidup (The Will
to-live). Disinilah dasar argumentasi Schopenhauer mengenai penderitaan.
Schopenhauer mengatakan bahwa penderitaan berasal dari adanya interaksi antara
kehendak (subjek) dengan objek material dalam ruang dan waktu.
Lebih
lanjut, pembahasan kehendak tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai
relasi jiwa-tubuh. Hal itu dikarenakan Schopenhauer tidak memandang relasi jiwa
dan tubuh dengan membedakan keduanya, melainkan keduanya sama. Jika Descartes
beranggapan bahwa jiwa dan tubuh itu dua substansi yang berbeda, lain halnya
dengan Schopenhauer, ia memandang keduanya sebagai kesatuan. Atau dengan kata
lain Schopenhauer menolak dualitas jiwa dan tubuh, ia menyebut jiwa dan tubuh
sebagai kehendak. Jadi, ketika tubuh melakukan suatu pergerakan, itu tak lain
adalah manifestasi dari kehendak untuk hidup.
Jika
Plato beranggapan bahwa setelah seseorang mati, ada suatu bagian jiwa yang akan
tetap terbawa yakni intelektual, Schopenhauer menegaskan bahwa kematian
bukanlah permasalahan demikian. Kematian hanyalah permasalahan waktu yang
sejatinya hanya ilusi dan tak ada yang terbawa seperti halnya yang dikemukakan
oleh filsuf kebanggan Yunani tersebut. Menurut Schopenhauer, segalanya lenyap:
kesadaran, intelektual, tubuh dan bagian-bagiannya. Manusia akan kembali ke
keadaan aslinya (true nature). Dalam
keadaan asali tidak lagi ada batasan-batasan yang bernama personal, melainkan
bersifat impersonal dan tidak dapat dimanipulasi oleh waktu (timeless reality).
Lalu
apa kaitannya semua itu dengan kematian? Seperti yang sudah dipaparkan di atas
bahwa kehendak untuk hidup itulah yang menyebabkan lahirnya penderitaan menurut
Schopenhauer. Atas dasar itu, ia menawarkan dua pilihan, yakni mengafirmasi
kehendak atau menegasikannya. Bila memilih afirmasi kehendak, maka kita akan (semakin) menderita. Lalu apakah kalau
memilih menegasikan kehendak kita tidak akan menderita? setidaknya, jika kita
memilih menegasikan kehendak, kita bisa meminimalisir penderitaan—meminimalisir
disini bukan berarti meniadakan penderitaan. Dari situ, munculah pertanyaan:
apakah tidak ada jalan untuk mengakhiri penderitaan? secara singkat
Schopenhauer menjawabnya ‘ada’, yaitu kematian. Jika kematian menjadi
akhir dari penderitaan yang mengungkung manusia selama ini, mengapa tidak bunuh
diri saja? bukankah bunuh diri merupakan suatu jalan pintas untuk mengakhiri
penderitaan?
Dalam
esainya yang berjudul on the doctrine of
the indestructibility of our true nature, Schopenhauer menjawab pertanyaan
di atas. Bertolak dari pemikiran Epicurus, yang mengatakan bahwa hidup tak lain
hanya numpang eksis semata di dalam ruang dan waktu, Schopenhauer membombardir
konsepsi yang demikian (bunuh diri
sebagai jalan pintas). Menurutnya, kematian itu bukanlah persoalan dari
tiada menjadi ada lalu menjadi tiada lagi seperti yang dikatakan Epicurus,
melainkan tentang berakhirnya penderitaan atas belenggu fenomena.
Kematian
menjadi pembebas manusia dari belenggu fenomena karena seseorang hidup di dalam
ruang dan waktu yang di dalamnya terdapat kausalitas. Kausalitas inilah yang
menyebabkan kehendak untuk hidup terus-menerus memaksa memanifestasikan diri—di
paragraf-paragraf sebelumnya sudah dijelaskan bahwasanya kehendak yang
menginteraksi objek material melahirkan penderitaan. Sejauh objek material
hanya berada di dalam ruang dan waktu, maka ketika seseorang mati, disitulah
penderitaan berakhir, kehendak sudah tidak bisa lagi menginteraksi objek
material.
Bunuh
diri adalah suatu bentuk pengafirmasian kehendak. Pasalnya, ketika seseorang
melakukan bunuh diri, ia sebenarnya mendapat bisikan dari kehendak, sampai
akhirnya ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi sesudah mati, lalu
akhirnya ia melakukan apa yang dibisikan oleh ‘kehendak’. Pada titik itulah mengapa Schopenhauer mengatakan bahwa
hanya orang cerobohlah yang melakukan bunuh diri, karena ia dihantui rasa
penasaran sampai akhirnya ditundukkan oleh kehendak, bukan malah
menundukkannya.
Sedangkan
perihal bunuh diri, pernah ada seorang sastrawan Jepang bernama Akutagawa
menyindir Schopenhauer dengan mengatakan: “hanya Schopenhauer di antara kaum
pesimistis yang tidak melakukan bunuh diri, malahan ia sibuk dengan gerakan
spiritual yang ia bangun”. Ucapan itu ada benarnya, karena Schopenhauer tidak
pernah menawarkan bunuh diri sebagai jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan.
Karena menurutnya, bunuh diri adalah suatu bentuk pengafirmasian kehendak.
Pasalnya, ketika seseorang melakukan bunuh diri, ia sebenarnya mendapat bisikan
dari kehendak, sampai akhirnya ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi
sesudah mati, lalu akhirnya ia melakukan apa yang dibisikkan oleh ‘kehendak’.
Pada titik itulah mengapa Schopenhauer mengatakan bahwa hanya orang cerobohlah
yang melakukan bunuh diri, karena ia dihantui rasa penasaran sampai akhirnya
ditundukkan oleh kehendak, bukan malah menundukkannya.
Albert
Camus
"Bunuh Diri, Albert Camus - Absurditas."
Albert Camus, seorang novelis asal Prancis yang menolak
disebut filsuf eksistensialis ini, dan lebih memilih dirinya disebut sebagai
absurdisme, kali ini membahas kematian prihal bunuh diri.
Apa yang maksud absurd, oleh Camus ?
Menurut Camus, hidup manusia itu absurd. Letak absurditasnya
adalah (1) di satu sisi manusia hidup mengarah/menuju pada masa depan sementara
(2) di sisi lain, masa depan itu makin mendekatkan manusia pada kematian.
Karena menghadapi absurditas itu, manusia sering kali melakukan "salto",
atau dengan kata lain melarikan diri, dengan (1) menenggelamkan diri pada agama
atau ideologi tertentu atau (2) bunuh diri.
Baik
"salto" ke dalam agama atau ideologi maupun melakukan bunuh diri
ditolak oleh Camus sebagai solusi dari absurditas hidup manusia. Solusi yang
ditawarkannya adalah melakukan pemberontakan atas hidup (revolt).
Maksudnya, menghadapi hidup dengan berani tanpa perlu takut pada bahaya
kematian yang bisa datang setiap saat tanpa diketahui, mirip gagasan epikuros.
Camus,
menuliskan sebuah kisah epik Mitos Sisyphus yang merupakan adopsi dari sebuah
roman Yunani Kuno. Singkat cerita, Zeus yang murka menghukum Sisyphus di Dunia
Bawah. Ia diwajibkan mendorong sebuah batu besar menuju puncak gunung. Sesaat
sampai di puncak, batu tersebut menggelinding, kembali ke bawah. Begitulah
seterusnya, ia harus kembali mendorongnya dari bawah sampai ke puncak gunung,
kembali menggelinding, mendorong lagi, dan menggelinding lagi.
Hal tersebut berlangsung bukan satu dua kali, bukan pula
sejuta kali, tapi tak terbatas!
Sisyphus hidup dalam penderitaan
yang tak berujung, tapi ia tak memilih untuk mati. Pesan itulah yang ingin
disampaikan oleh Albert Camus. Sekalipun hidup hanya berisi kepedihan siksa dan
gelapnya jurang tak berujung, mau tak mau harus tetap dijalani.
Bunuh
diri sebagai alternatif mengakhiri absurditas memanglah cukup dilematis. Pertama,
manusia secara alamiah takut mengalami mati, bukan, tapi takut akan rasa sakit
yang ditimbulkan oleh kematian. Sebetulnya, manusia tidak takut mati, ia hanya
tak mau mengalami rasa pedih, tapi ketika kepedihan hidup sudah jauh melampaui
dugaan sakitnya kematian, maka bunuh diri adalah masuk akal. Tapi poin penting
yang patut digaris bawahi adalah manusia tak ingin mati, ia hanya ingin
mengakhiri kepedihan dan dengan kematian ia bisa mendapatkan. Padahal kita tak
pernah mengerti apa yang terjadi selepas kematian.
Kedua, ada bayang-bayang kehidupan pasca
kematian yang belum tentu tak lebih pedih daripada kehidupan dunia. Ketiga,
bukankah dengan bunuh diri akan menimbulkan kehancuran mental orang-orang
terdekat yang menggap ia berharga. Tidakkah sama artinya menyebarkan virus
absurditas dan nihilisme baru kepada orang lain yang ditinggalkan?
“Hidup
adalah perlawanan terhadap absurditas” begitulah simpulan Albert Camus. Jika
memang tak mampu mengakses sumberdaya kebahagiaan dan harus bergelut dengan
kepedihan, menjalaninya dengan apa adanya merupakan sebuah pilihan.
Fasilitas
kenikmatan bergaransi dari agama juga merupakan pilihan, jika anda tak naif
untuk mengakui dan memilihnya. Terus mengalami kesengsaraan dalam berusaha
mencapai kenikmatan hedonistis yang disediakan kapitalisme, pula merupakan
pilihan. Streaming game atau menonton anime 7 x 24 jam tidak lain merupakan
pilihan.
Akhir
kata, hidup tak benar-benar bermakna, dan kesadaran akan kehidupan yang buruk,
rusak dan tidak adil ini justru menciptakan absurditas dan nihilisme. Jika tak
ingin mempercepat kematian, satu-satunya pilihan adalah menjalaninya dengan
sedikit berharap mampu menggunakan fasilitas kebahagiaan dari pintu manapun.
Tapi bukankah tidak buruk juga untuk benar-benar memilih kembali ke agama?
Kesimpulan
Tak
panjang lebar untuk mengelaborasikan berbagai perspektif diatas, hidup itu
isinya memang buruk. Dari banyak pandangan diatas, Epikuros, Leahy,
Schopenhauer sampai Camus. Nyatanya sepakat bahwasannya hidup itu
adalah pemenuhan dari suatu keburukan, yang mendasari naluri menerjemahkan
kedalam suatu ketakutan. Dan nyata, kematian didasari atas ketakutan — dengan
begitu seakan mereka sama-sama sepakat, meski dalam perspektif yang berbeda.
Bahwasannya, satu hal yang pasti. Tak seorangpun yang bisa menghindari
kematian, tapi tidak dengan menghindari ketakutan.

Comments
Post a Comment