Abstraksi Kematian Dalam Perspektif Filosofis

Penulis : Josua Rawis

(Foto Istimewa)
  
AKADEMOS - Kematian. Sesuatu yang dijauhkan, tapi selalu pasti mendekat. Kita sering terbenak kematian akan ada di masa tua, tapi bagaimana dengan maut dan penyakit apakah kita selalu siap? atau begini, bagaimana jika hidup dibuat menjadi suatu obsesi saja untuk menggapai suatu ketenangan jiwa? 

Hasrat, ketika berbicara persoalan hasrat berarti ada pemenuhan hidup yang harus dicapai untuk memenuhi obsesinya. Bagaimana jika makna tidak ada lagi? Bukankah dengan melampiaskan kekesalannya bunuh diri terkadang menjadi pilihan? 

Maka dengan ini, obsesi hidup hanya menghantar manusia kepada suatu hal yang pada akhirnya tidak dipertanggung jawabkannya juga. Keterbatasan makna kematian yang terbesit ini, membuat kita harus menulusuri lebih jauh lagi tentang apa dan bagaimana tentang persoalan yang tidak dapat disangkal ini, yaitu kematian dan berbagai momoknya. 

Epikuros
"Jauh sebelumnya seorang filsuf beraliran sinisme Athena, Yunani (341 SM - 270 SM) Epikuros, sudah memberikan makna terhadap kematian. Berupa gagasan, "atraxia" (ketiadaan ketakutan, kegelisahan, ataupun kecemasan) dan "aponia" (ketiadaan rasa sakit).

Ia mengajarkan bahwa akar dari segala penderitaan adalah penolakan kematian dan kecenderungan manusia untuk membayangkan bahwa kematian itu mengerikan dan menyakitkan. Menurutnya, hal ini telah menimbulkan kecemasan yang tidak perlu. Epikuros sendiri berpandangan bahwa kematian adalah akhir dari tubuh maupun jiwa, sehingga tidak perlu ditakuti.

Epikuros beranggapan bahwa "filsafat ada untuk mewujudkan kehidupan yang tenang", maksudnya bertolak dari momok kematian yang menghantui dan merusak jiwa yang tenang. Maka gagasan atraxia dan aponia-lah, sebenarnya yang harus ada dan menjauhkan stigma kematian yang menakutkan.

Epikuros juga mengajarkan bahwa orang tetap perlu berbuat baik kepada sesama, karena jika mereka bertindak jahat, rasa bersalah akan menghantui mereka dan membuat mereka tidak dapat mencapai ataraxia.

Gagasan kematian Epikuros inilah yang pertama kali berkontribusi memaknai kematian secara filosofis, meskipun dalam satu sisi epikuros adalah seorang religius yang mempercayai entitas "dewa-dewa", karena memang dia hidup diera mitosentris Yunani. Tapi, karena gagasan rasionalnya, tak bisa dipungkirinyalah makna kematian epikuros menjadi acuan refleksi terkait konteks pemaknaan kematian."

Lois Leahy
Sejauh ini memang banyak anggapan yang terbesit dalam memaknai persoalan kematian dari berbagai perspektif filsafat, terutama 'filsafat manusia' yang juga merupakan salah satu cabang epistemologi filsafat. Kematian, oleh manusia selalu dicakup dari dua unsur dualis antara tubuh dan jiwa. Seperti makna kematian yang ditulis oleh Lois Leahy. Leahy, menjadi menarik untuk dibahas karena beliau adalah seorang teolog juga akademisi yang telah banyak menuangkan karyanya mengenai manusia, dan filsafat manusia. 

Louis Leahy, seorang dosen sekaligus tokoh filsafat kontemporer, yang dalam sebuah situs ensiklopedia internasional sudah diakui sebagai seorang filsuf, menaruh perhatian yang cukup besar perihal kematian. 

"Pada salah satu kuliah filsafat di jenjang S1, seorang Dosen pernah melontarkan satu pertanyaan pada para Mahasiswanya, begini: “Apakah yang paling dekat dengan Anda?” Seluruh mahasiswa diminta memberikan jawaban.

Tentulah bermacam-macam jawaban dari para mahasiswa yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas tersebut. Beberapa dari mahasiswa menjawab orang tua, beberapa menjawab Tuhan, bahkan ada yang menjawab teman yang duduk di bangku sebelah. Semua meyakini jawabannya sebagai jawaban yang paling tepat.

Namun semua menjawab dengan jawaban yang seharusnya ditanyakan dengan pertanyaan ‘Siapa’ dan bukan ‘Apa’, jelaslah ada kekeliruan atas jawaban-jawaban yang diberikan. Lalu dosen tersebut pada akhirnya menjawab pertanyaan yang beliau lontarkan, ia berkata: “Yang paling dekat dengan Anda adalah kematian."

Suatu keniscayaan, tapi dijumpai sebagai suatu misteri karena pada dasarnya kematian dipersoalkan sebagai faktor perennial, semua itu karena landasan ketakutan manusia terhadap ajal yang begitu dekat. Dengan itu, manusia lebih menyembunyikan perasaannya untuk merenungkan tentang kematian, karena manusia berjalan atas dasar rasa bersalahnya. Makanya seringkali saudara kandung kelahiran ini diabaikan, dan bagaimana bisa ? Mungkin saja nanti, ketika momok menakutkan itu datang lewat vonis kematiannya, seketika itu pula manusia akan tersadar dan mulai akrab dengan saudara kelahirannya itu yaitu kematian.

Steve Jobs, seorang CEO perusahaan gadget ternama, pernah melakukan sebuah renungan tentang kematian yang ia sisipkan di antara pidatonya setelah ia divonis menderita kanker, berikut penggalan pidato Steve Jobs:

"No one wants to die. Even people who want to go to heaven don't want to die to get there. And yet, death is the destination we all share. No one has ever escaped it, and that is how it should be, because death is very likely the single best invention of life. It's life's change agent. It clears out the old to make way for the new.”

Kutipan tersebut merupakan refleksi Steve Jobs tentang kematian. Dapat dilihat bahwa ia memilih untuk menaruh respon positif sekaligus pasrah terhadap kematian. Sebuah sikap yang dilandasi kesadaran bahwa tak ada satupun yang bisa menghindarkan diri dari kematian. Perbincangan tentang manusia, tentu saja akan mengarah dan sangat mungkin berakhir dengan perbincangan tentang kematian.

Perbincangan tentang kematian memang bukanlah hal yang sederhana baik karena ketidakjelasan yang disebabkan oleh ketiadaan pengalaman individu, maupun dikarenakan subjektivitas perasaan yang timbul akibat melihat kematian manusia lain.

Corak Pemikiran Leahy
Corak pemikiran Leahy dapat digambarkan dalam berbagai pendapatnya terkait dengan realitas yang ada. Sebab ini membahas sekilas pandangan Leahy tentang manusia. Manusia adalah makhluk yang terbentuk atas susunan jiwa dan badan, atau jasmani dan roh.

Leahy menganggap pentingnya pembahasan tentang manusia melalui perspektif filosofis yang tersistematis dalam sebuah pemikiran filsafat manusia dengan beberapa alasan, sebagai berikut:
  1. Manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan istimewa beserta yang istimewa sampai batas tertentu.
  2. Manusia memiliki tugas menyelidiki hal-hal secara mendalam.
  3. Manusia memiliki kesadaran bahwa manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Salah satu perbedaannya ialah bahwa manusia dilengkapi dengan tanggung jawab.
Manusia adalah makhluk paradoksal. Paradoksal dalam konteks ini adalah sifat yang seolah-olah berlawanan atau bertentangan tetapi pada dasarnya mengandung sebuah kebenaran. Manusia disebut paradoksal karena tersusun atas roh dan badan, bersifat subsitens dan terbuka, serta bereksistensi.

Keberadaan manusia lazim dijelaskan dengan cara memperbandingkan perbedaan antara manusia dan binatang. Susunan genetik, kemampuan-kemampuan motorik, afektif, serta berbagai indikator lain yang digunakan oleh manusia untuk membedakan dirinya dengan binatang. Salah satu buktinya adalah munculnya tesis penyebutan manusia sebagai animal symbolicum.

Pada dasarnya, manusia memang memiliki kesamaan dengan makhluk hidup lain, baik binatang maupun tumbuhan. Akan tetapi, manusia tetap memiliki kelebihan dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain. Kodrat esensial makhluk hidup adalah sebuah substansi natural yang terbentuk dari badan dan jiwa, dengan organ yang menyusun kesatuan kompleks. Kodrat esensial tersebut dalam diri manusia dilengkapi dengan kesadaran terhadap dirinya.

Upaya pencarian jati diri manusia merupakan hal yang paling membedakan antara manusia dan binatang. Pada saatnya, kesadaran dan pencarian jati diri manusia akan mengantarkan manusia pada pemahaman tentang hakikat dirinya. Kesadaran manusia akan dirinya dan upaya pencarian jati diri manusia merujuk pada rumusan akan penyusunan manusia.

Jiwa dan Badan
Jiwa adalah bagian inti dari hidup manusia dan tidak bersifat materi serta berfungsi untuk mengenali dan menemukan segala signifikansi kehidupan. Jiwa yang tak dapat ditangkap secara langsung dengan indra manusia, akan menampakkan gejalanya melalui badan yang bersifat indrawi sehingga memungkinkan untuk merealisasikan kehadiran jiwa.

Jiwa dan badan adalah suatu kesatuan esensial yang solider satu sama lain. Jiwa tidak dapat dipahami sebagai unsur yang terpisah dari badan jasmani, karena keduanya tidak dapat dipisahkan. Badan bukan semata-mata suatu wadah untuk membatasi jiwa, tetapi badan merupakan sarana eksistensi manusia.

Letak jiwa dalam suatu badan tidak berada seperti titik pada sebuah kertas, melainkan berada di setiap sudut badan, sebagai bagian setiap detil keutuhan badan. Jiwa adalah sebuah ide yang berada pada puncak hirarki yang dimiliki manusia. Secara tidak langsung, Leahy menyetujui konsep dualisme jiwa dan badan yang digagas oleh Plato.

Menurut Leahy, keberadaan jiwa adalah nyata, namun hanya dapat diketahui di dalam – melalui – badan. Jiwa memiliki eksistensi dan bersifat unggul, dan demikian juga dengan badan. Badan ada sejurus dengan jiwa, tetapi ‘ada’ yang berbeda.

Jiwa dan badan hendaknya menyatu menjadi suatu susunan manusia yang harmonis. Leahy menganalogikan hubungan antara jiwa dan badan seperti harmonisasi musik dari permainan kecapi. Muncul bentuk baru harmonisasi musik kecapi, namun kemunculan yang baru itu tidak serta merta menghilangkan peran dari kedua unsur pembentuknya, yakni kecapi dan musik.

Leahy selanjutnya menjelaskan bahwa dualisme yang dimaksud tidaklah sama dengan yang digagas oleh Plato. Konsep dualisme Plato menempatkan jiwa lebih tinggi daripada badan, dimana badan hanyalah sarana bertindak sementara jiwalah mengeksekusi pilihan.

Leahy tidak setuju pada pandangan tersebut dengan anggapan bahwa badan juga berperan dalam pengambilan keputusan atau menentukan kebijakan. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa jiwa juga berperan dalam tindakkan yang dilakukan badan, yakni memberikan arah pada tindakan yang dilakukan oleh badan melalui sarana ‘mata batin’ dan naluri.

Ketakutan Akan Kematian
Terdapat dua macam pandangan besar tentang ketakutan terhadap kematian. Pertama, pandangan yang berpendapat bahwa manusia dapat menerima kenyataan akan kematian dikarenakan adanya harapan akan kebakaan personal. Kedua, yaitu pandangan kepercayaan terhadap tidak adanya kehidupan baka, dan meski demikian manusia dapat mengatasi ketakutan akan kematian itu.

Jiwa manusia memiliki sifat spiritual, yaitu apa yang disebut dengan transendensi terhadap tubuh, sehingga penalaran filosofis mengenai kematian erat sekali hubungannya dengan proses kreatif yang dilakukan oleh Tuhan. Leahy juga memberikan argumen-argumen yang dipakai untuk membahas masalah kekekalan jiwa, beberapa diantaranya yaitu:
  1. Argumen hasrat untuk hidup. Hasrat diibaratkan dengan kita yang selalu berjalan dalam hidup namun kita tidak pernah merasa seakan-akan sudah melewati jalan itu sehingga sudah tiba saatnya meninggalkan jalan itu. Ada satu sisi di dalam diri kita, kita abadi.
  2. Argumen hasrat kepada kebahagiaan. Jiwa harus diperlengkapi dengan kehidupan setelah mati karena kehidupan di dunia materi seringkali tidak sempurna. Jadi, kemungkinan adanya kebahagiaan total yang dirindukan oleh semua orang menuntut kekekalannya.
Sedangkan pandangan dari kelompok kedua yang mengatasi ketakutan akan kematian tanpa adanya keyakinan akan kebakaan jiwa diwakili oleh beberapa pandangan, yaitu:
  1. Epicurus dan Pengikutnya. Menurut Epicurus, kematian tidak perlu ditakuti karena kematian sama halnya dengan tidur, yaitu hilangnya kesadaran, sehingga kematian tidak menyakitkan.
  2. Kaum Stoic. Seneca mengatakan bahwa manusia harus memikirkan kematian dengan cara yang tepat, yaitu selalu mengingatkan diri sebagai bagian dari alam dengan peranan yang harus diterima.
  3. Spinoza. Manusia harus mengalihkan perhatian dari kematian dengan cara memusatkan perhatian pada kehidupan. Dengan demikian ketakutan akan kematian dapat diusir.
Kematian dan Prosesnya
Terdapat lima tahapan kematian yang diungkapkan oleh Elisabeth Kubler- Ross, M. D. Tahapan-tahapan itu dirumuskan berdasarkan hasil observasinya dari para penderita penyakit kanker, yaitu: 
a) tahap penyangkalan dan menyendiri,
b)tahap marah,
c) tahap tawar menawar,
d) tahap depresi,
e) tahap menyerah dan pasrah.

Tahapan-tahapan digagas oleh Kubler-Ross berbicara mengenai kondisi khusus tentang kematian yang datang pada kondisi orang-orang yang telah didiagnosis akan mati. Permasalahannya adalah bagaimana dengan orang-orang yang tidak mendapatkan vonis kematian dari dokter ataupun manusia lain selain dirinya? Bagaimana proses kematian bagi orang-orang yang disebut sebagai kematian biasa atau normal tanpa penyakit.

Leahy mempunyai pandangan sendiri mengenai proses kematian ini dan mengungkapkannya dalam dua tahap yang sejatinya satu proses saja. Leahy, menyebut tahap pertama dengan istilah, ‘kematian yang ditantang’. Tahapan ini kemudian berproses menjadi kepasrahan yang menyebabkan kematian tidak lagi terasa menakutkan.

Leahy menyadari bahwa rasa ingin, atau yang ia disebut sebagai perasaan menantang, bukanlah sebuah obsesi karena obsesi hanya bisa berbentuk ketakutan. Misalnya, ketakutan pantologis terhadap kematian.

Saat Kematian
Setelah menjalani tahapan menuju kematian yang harus dipertimbangkan, sebagaimana halnya mempertimbangkan kehidupan, maka ada pula tahapan ketika kematian itu benar-benar terjadi. Dalam pemikiran Leahy, indikator tahapan tersebut ialah bahwa untuk menghadapi kematian perlu suatu keberanian.

Maka sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh Leahy adalah kematian adalah pada saat kita menjadi pasrah pada apa yang akan hilang. Secara biologis tentu akan sangat banyak yang bisa menjelaskan bagaimana kira-kira saat kematian ini akan tiba.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam konsep kematian secara klinis, yakni keadaan dimana kegiatan pernafasan, jantung, dan reaksi otak kelihatan berhenti. Dengan memberikan waktu antara 5 (lima) hingga tiga puluh menit sebagai waktu tenggang sehatnya otak manusia. Namun bagaimana dengan pandangan-pandangan yang bersifat kejiwaan dalam memahami kematian ini?

Leahy, sebagai seorang pemikir yang mempercayai kekekalan jiwa, tentu saja menilai kematian bukan akhir dari segala-galanya. Apabila badan, sebagaimana yang diakui oleh Plato, merupakan kerangkeng kebebasan hakiki manusia maka kematian adalah zaman permulaan dan kebebasan. 

Arti Kematian
Lalu apa sebetulnya yang disebut kematian? Ada tiga pandangan utama untuk menjelaskan tentang kematian. Pertama, pandangan menurut Heidegger, mengungkapkan kematian sebagai sesuatu yang merupakan perpanjangan-tangan dari proses hidup manusia yang memang tidak berkesudahan dalam perangkap “belum”. Oleh karena itu hidup menurut Heidegger adalah sebuah proses menuju kematian. Kemudian menurut Sartre, kematian adalah sekonyong-konyong yang bersifat buta dan sangat absurd karena ia bersifat pasti namun tidak menyediakan pilihan. Sedangkan menurut Jaspers, kematian adalah akhir dari proses hidup karena manusia telah berada pada kondisi pemenuhan.

Pandangan Leahy menyatakan bahwa pemikiran yang matang tentang kematian, pertimbangan, atau bahkan keberanian ketika menantang kematian bukanlah sesuatu yang menghancurkan kesadaran manusia. Hal yang menghancurkan kesadaran manusia, dalam kaitannya dengan kematian, justru jika kematian dianggap sebagai peniadaan dari hidup sendiri.

Dengan demikian, maka sebenarnya Leahy sepakat dengan dua dari tiga filsuf di atas, yang memandang bahwa kematian itu bersifat pasti dan manusia menuju ke arahnya. Selain itu, dalam pandangan Leahy, manusia akan mati secara terhormat jika telah berhasil memikirkan, merancang dan mempertimbangkan secara matang tentang kematian. Itulah yang dinamakan Leahy dengam kematian setiap saat.

Kematian setiap saat adalah semacam penjelasan reflektif dalam melihat bagaimana sebuah akhir itu sebetulnya terkandung di dalam proses. Kematian-kematian yang berada di dalam proses inilah yang disebut sebagai keputusan-keputusan final. Maka apapun yang telah terjadi dan berakhir dalam kehidupan, sejatinya merupakan kematian, dan itulah yang dimaksud keputasan final yang sebenarnya adalah kematian. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sebetulnya tidak ada kematian yang benar-benar mendadak, karena ketika seorang manusia sadar bahwa setiap saat adalah kematian baginya melalui keputusan final, maka kematian dalam artian keputusan paling final-pun telah ia rencanakan. 

Leahy membandingkan pendapat tersebut dengan menggambarkannya dalam dua macam kondisi yaitu kematian dalam paham tradisional dan kematian dalam paham kosmis. Kematian dalam paham tradisional sebetulnya mirip dengan konsep kematian setiap saat yang melibatkan keputusan final. Bahwa seorang manusia diminta untuk mengenal dirinya dengan begitu mendalam sehingga pada gilirannya kelak maka ia bisa mendapatkan sebuah pengetahuan atau kesadaran intuitif akan dirinya secara langsung, yang berlangsung dalam hakikatnya sendiri.

Penjelasan yang diberikan oleh Leahy mengacu pada praktek-praktek yang dilakukan oleh orang-orang yang menganut paham asketis. Melalui praktek yoga mereka bisa memberitahu tentang out of the body experience yang jika kita artikan adalah keluar dari tubuh. Proses keluar dari tubuh ini tentu saja sangat identik dengan kematian. Pasalnya adalah praktek keluar dari tubuh ini dilakukan atau bisa dipraktekkan ketika kita masih hidup dan belum melewati titik pemberian keputusan paling final dari kehidupan ini. Maka seseorang yang melakukan praktek yoga akan sering mengalami kematian-kematian yang meskipun berbeda corak dengan konsep kematian setiap saat dalam kondisi keputusan final, namun secara mendasar kedua hal ini sangatlah mirip.

Sementara itu dalam pembahasan mengenai paham kosmis, Leahy mengungkapkan hal yang mirip dengan proses daur ulang. Kondisi dimana seorang manusia yang memiliki jiwa dan kemudian tercerai berai dengan kematian padahal jiwanya mengikut pada badannya. Paham ini diungkapkan oleh orang-orang yang mempercayai teori evolusi seperti Teilhard De Chardin dan Ladislas Boros.

Penjelasan mengenai kondisi daur ulang ini adalah ketika jiwa yang bersatu dengan badan kemudian tercerai berai dan terputus pada banyak bagiannya, sejatinya akan kembali ke kosmos untuk menjadi sebuah realitas yang baru meskipun berbeda. Dengan demikian, kematian adalah sebuah hal yang terjadi berulang kali dan terjadi pada segala sesuatu yang ada di dalam alam semesta ini.

Arthur Schopenhauer
Bagaimana Perspektif Kematian Filosofis menurut seorang Filsuf Pesimistik ?

"Kehendak Dan Kematian, Arthur Schopenhauer." 

Beranjak dari perspektif kematian filosofis dari seorang filsuf kontemporer yang juga teolog, Louis Leahy yang lebih ke pandangan dualitas tubuh dan jiwa sebagai suatu kesatuan.

Schopenhaur, berbeda lagi. Schopenhauer menolak dualitas jiwa-tubuh, ia menyebut jiwa dan tubuh sebagai kehendak.

"Arthur Schopenhauer dikenal sebagai seorang filsuf yang pesimistik. Mengapa demikian? Karena bagi Ia kehidupan tak lain dan tak bukan adalah suatu bentuk penyiksaan diri, hasrat yang membelenggu dan tak pernah terpuaskan.

Menurutnya, manusia akan terus-menerus mengikat dirinya pada keduniawian yang menurut mereka adalah kebahagiaan, padahal apa yang mereka kira sebagai kebahagiaan tersebut tak lebih dari sekadar ilusi semata. Atas dasar inilah kiranya mereka mengembel-embeli filsuf satu ini dengan sebutan pesimistis. Pemikirannya dipengaruhi oleh Kant dan Buddha, aliran Schopenhauer sejatinya baraliran Kantianism dan Idealism."

Terlepas dari segala penilaian terhadapnya, Schopenhauer sejatinya mempunyai pemikiran yang menarik dan patut ditelaah lebih lanjut. Terlebih, ia juga dikenal sebagai rival Hegel yang mempunyai hegemoni kuat pada zamannya. Kendati Schopenhauer semasa hidupnya kalah saing dari rivalnya tersebut, setidaknya, pemikirannya berpengaruh kuat pada muridnya, Nietzsche, seorang yang dalam sejarah filsafat barat mempunyai pengaruh kuat pada pemikir-pemikir setelahnya. Bahkan Nietzsche dianggap sebagai pembuka jalan dari zaman modern ke zaman post-modern. Dengan demikian, secara tidak langsung, Schopenhauer mempunyai peran signifikan dalam atmosfer pemikiran postmodern lewat ‘muridnya’ tersebut.

Selain Nietzsche, ada nama-nama lain yang cukup kuat terpengaruh oleh Schopenhauer, seperti Richard Wagner, Thomas Mann dan Herman Hesse. Kendati ketiga nama tersebut bukan termasuk dalam jajaran nama filsuf, setidaknya, Schopenhauer berhasil memberikan warisan pemikiran tidak hanya pada bidang filsafat saja, melainkan merambah ke bidang sastra dan musik. Bahkan dua nama yang terakhir disebut berhasil menggondol penghargaan bergengsi di bidang sastra, yaitu nobel.

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai kematian dalam pemikiran Schopenhauer, alangkah baiknya jika terlebih dahulu kita memahami bagaimana ia memandang realitas. Karena dalam pergumulan filosofis, bagaimana seorang filsuf memandang realitas menjadi hal yang fundamental, atau dalam istilah filosofis, ontologis. Maka dari itu, tulisan ini akan sedikit memaparkan bagaimana pijakan ontologis Schopenhauer.

Kematian itu bukanlah persoalan dari tiada menjadi ada lalu menjadi tiada lagi seperti yang dikatakan Epicurus, melainkan tentang berakhirnya penderitaan atas belenggu fenomena.

Schopenhauer, bukanlah seorang pemikir yang independen, artinya ia juga terpengaruh oleh pemikir-pemikir yang mendahuluinya, yaitu Immanuel Kant, Plato, dan Buddha. Pemikiran ketiga tokoh tersebut berhasil dielaborasikan dengan apik oleh Schopenhauer. Nampak pemikiran Kant begitu mencolok pada pandangan metafisis Schopenhauer, Pemikiran Plato terlihat pada pandangannya perihal seni, sedangkan pemikiran ala buddhisme nampak pada bagaimana ia menanggapi kehidupan. 

Kant, pemikir kondang yang berhasil membuat revolusi tanpa tumpasan darah, mempunyai gagasan bahwa dunia terbagi menjadi dua bagian. Yang pertama ia sebut dengan fenomena (appereance thing), tataran yang sanggup dijangkau oleh rasio manusia. Sedangkan yang kedua ialah noumena (the thing-in-itself), pada tataran ini rasio manusia tidak sanggup untuk menjangkau. Kant berpendapat bahwa sesuatu yang dapat dijangkau oleh rasio manusia (fenomena) hanyalah apa yang ada dalam ruang dan waktu, sesuatu yang bersifat experiencible, atau apa yang dapat dipersepsi langsung melalui indra.

Bagaimana dengan Schopenhauer? ia mengadopsi gagasan Kant perihal dua bagian itu dengan sedikit modifikasi. Polanya tetap sama antara noumena dan fenomena. Pada tataran fenomena, Schopenhauer menyetujui, seperti halnya Kant, bahwasanya keberadaan objek material bertopang pada ruang dan waktu. Dalam ruang waktu juga terdapat kausalitas. Akan tetapi, Schopenhauer tidak memandang seperti halnya para realis pada tataran ini, ia justru beranggapan bahwa objek material tidak akan eksis sejauh tidak ada interaksi antara subjek dan objek—hal ini sangat bertentangan dengan kaum realis.

Lalu jika eksistensi suatu objek material diukur dari adanya subjek yang menginteraksi, bagaimana jika ada seseorang—katakanlah Si A dengan Si B—Jika Si A melihat meja di dalam ruangan berbentuk kotak sedangkan Si B tidak pernah melihat meja berbentuk kotak melainkan bundar, bukankah ini menjadi problematis? Ternyata Schopenhauer sudah memikirkan hal ini di dalam disertasinya yang berjudul The Fourfold Root. Perihal problematika antara Si A dan Si B, Schopenhauer menjawabnya dengan argument ‘prinsip individuasi’ (principium individuationis). Prinsip ini memandang problematika yang dialami antara Si A dan Si B hanyalah permasalahan bagian ruang dan waktu. Di mana Si A dan Si B sejatinya tidaklah keliru, hanya saja pengalaman mereka yang terbatas. Artinya, Si A dan Si B terestriksi oleh ruang dan waktu, misal Si A melihat meja kotak dalam ruangan di Kota X dan Si B melihatnya di Kota Y.

Sedangkan mengenai noumena, jika Kant mengatakan bahwa Tuhan, jiwa, dan substansi yang ada pada tataran ini—atau dalam istilah Kant, ‘sesuatu yang ada pada dirinya sendiri’, ada juga yang mengatakan kalau Kant juga menyebutnya dengan X, atau sesuatu yang tidak diketahui—Schopenhauer menyebutnya sebagai kehendak. Kehendak ini yang dinamakan oleh Schopenhauer sebagai apa yang ada dalam dirinya (The Thing in-itself). Kendati konsep kehendak ini sukar untuk dipahami, bukan berarti tidak dapat dijelaskan sama sekali. Kehendak dapat memanifestasikan dirinya dalam fenomena lewat simtom-simtom. Melalui pendekatan terhadap manifestasinya tersebutlah kehendak dapat sedikit terjelaskan. Schopenhauer menyebutnya dengan sebutan manifestasi kehendak untuk hidup (The Will to-live). Disinilah dasar argumentasi Schopenhauer mengenai penderitaan. Schopenhauer mengatakan bahwa penderitaan berasal dari adanya interaksi antara kehendak (subjek) dengan objek material dalam ruang dan waktu.

Lebih lanjut, pembahasan kehendak tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai relasi jiwa-tubuh. Hal itu dikarenakan Schopenhauer tidak memandang relasi jiwa dan tubuh dengan membedakan keduanya, melainkan keduanya sama. Jika Descartes beranggapan bahwa jiwa dan tubuh itu dua substansi yang berbeda, lain halnya dengan Schopenhauer, ia memandang keduanya sebagai kesatuan. Atau dengan kata lain Schopenhauer menolak dualitas jiwa dan tubuh, ia menyebut jiwa dan tubuh sebagai kehendak. Jadi, ketika tubuh melakukan suatu pergerakan, itu tak lain adalah manifestasi dari kehendak untuk hidup.

Jika Plato beranggapan bahwa setelah seseorang mati, ada suatu bagian jiwa yang akan tetap terbawa yakni intelektual, Schopenhauer menegaskan bahwa kematian bukanlah permasalahan demikian. Kematian hanyalah permasalahan waktu yang sejatinya hanya ilusi dan tak ada yang terbawa seperti halnya yang dikemukakan oleh filsuf kebanggan Yunani tersebut. Menurut Schopenhauer, segalanya lenyap: kesadaran, intelektual, tubuh dan bagian-bagiannya. Manusia akan kembali ke keadaan aslinya (true nature). Dalam keadaan asali tidak lagi ada batasan-batasan yang bernama personal, melainkan bersifat impersonal dan tidak dapat dimanipulasi oleh waktu (timeless reality).

Lalu apa kaitannya semua itu dengan kematian? Seperti yang sudah dipaparkan di atas bahwa kehendak untuk hidup itulah yang menyebabkan lahirnya penderitaan menurut Schopenhauer. Atas dasar itu, ia menawarkan dua pilihan, yakni mengafirmasi kehendak atau menegasikannya. Bila memilih afirmasi kehendak, maka kita akan (semakin) menderita. Lalu apakah kalau memilih menegasikan kehendak kita tidak akan menderita? setidaknya, jika kita memilih menegasikan kehendak, kita bisa meminimalisir penderitaan—meminimalisir disini bukan berarti meniadakan penderitaan. Dari situ, munculah pertanyaan: apakah tidak ada jalan untuk mengakhiri penderitaan? secara singkat Schopenhauer menjawabnya ‘ada’, yaitu kematian. Jika kematian menjadi akhir dari penderitaan yang mengungkung manusia selama ini, mengapa tidak bunuh diri saja? bukankah bunuh diri merupakan suatu jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan?

Dalam esainya yang berjudul on the doctrine of the indestructibility of our true nature, Schopenhauer menjawab pertanyaan di atas. Bertolak dari pemikiran Epicurus, yang mengatakan bahwa hidup tak lain hanya numpang eksis semata di dalam ruang dan waktu, Schopenhauer membombardir konsepsi yang demikian (bunuh diri sebagai jalan pintas). Menurutnya, kematian itu bukanlah persoalan dari tiada menjadi ada lalu menjadi tiada lagi seperti yang dikatakan Epicurus, melainkan tentang berakhirnya penderitaan atas belenggu fenomena.

Kematian menjadi pembebas manusia dari belenggu fenomena karena seseorang hidup di dalam ruang dan waktu yang di dalamnya terdapat kausalitas. Kausalitas inilah yang menyebabkan kehendak untuk hidup terus-menerus memaksa memanifestasikan diri—di paragraf-paragraf sebelumnya sudah dijelaskan bahwasanya kehendak yang menginteraksi objek material melahirkan penderitaan. Sejauh objek material hanya berada di dalam ruang dan waktu, maka ketika seseorang mati, disitulah penderitaan berakhir, kehendak sudah tidak bisa lagi menginteraksi objek material.

Bunuh diri adalah suatu bentuk pengafirmasian kehendak. Pasalnya, ketika seseorang melakukan bunuh diri, ia sebenarnya mendapat bisikan dari kehendak, sampai akhirnya ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi sesudah mati, lalu akhirnya ia melakukan apa yang dibisikan oleh ‘kehendak’. Pada titik itulah mengapa Schopenhauer mengatakan bahwa hanya orang cerobohlah yang melakukan bunuh diri, karena ia dihantui rasa penasaran sampai akhirnya ditundukkan oleh kehendak, bukan malah menundukkannya. 

Sedangkan perihal bunuh diri, pernah ada seorang sastrawan Jepang bernama Akutagawa menyindir Schopenhauer dengan mengatakan: “hanya Schopenhauer di antara kaum pesimistis yang tidak melakukan bunuh diri, malahan ia sibuk dengan gerakan spiritual yang ia bangun”. Ucapan itu ada benarnya, karena Schopenhauer tidak pernah menawarkan bunuh diri sebagai jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan. Karena menurutnya, bunuh diri adalah suatu bentuk pengafirmasian kehendak. Pasalnya, ketika seseorang melakukan bunuh diri, ia sebenarnya mendapat bisikan dari kehendak, sampai akhirnya ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi sesudah mati, lalu akhirnya ia melakukan apa yang dibisikkan oleh ‘kehendak’. Pada titik itulah mengapa Schopenhauer mengatakan bahwa hanya orang cerobohlah yang melakukan bunuh diri, karena ia dihantui rasa penasaran sampai akhirnya ditundukkan oleh kehendak, bukan malah menundukkannya.

Albert Camus
"Bunuh Diri, Albert Camus - Absurditas." 

Albert Camus, seorang novelis asal Prancis yang menolak disebut filsuf eksistensialis ini, dan lebih memilih dirinya disebut sebagai absurdisme, kali ini membahas kematian prihal bunuh diri.

Apa yang maksud absurd, oleh Camus ? 

Menurut Camus, hidup manusia itu absurd. Letak absurditasnya adalah (1) di satu sisi manusia hidup mengarah/menuju pada masa depan sementara (2) di sisi lain, masa depan itu makin mendekatkan manusia pada kematian. Karena menghadapi absurditas itu, manusia sering kali melakukan "salto", atau dengan kata lain melarikan diri, dengan (1) menenggelamkan diri pada agama atau ideologi tertentu atau (2) bunuh diri.

Baik "salto" ke dalam agama atau ideologi maupun melakukan bunuh diri ditolak oleh Camus sebagai solusi dari absurditas hidup manusia. Solusi yang ditawarkannya adalah melakukan pemberontakan atas hidup (revolt). Maksudnya, menghadapi hidup dengan berani tanpa perlu takut pada bahaya kematian yang bisa datang setiap saat tanpa diketahui, mirip gagasan epikuros.

Camus, menuliskan sebuah kisah epik Mitos Sisyphus yang merupakan adopsi dari sebuah roman Yunani Kuno. Singkat cerita, Zeus yang murka menghukum Sisyphus di Dunia Bawah. Ia diwajibkan mendorong sebuah batu besar menuju puncak gunung. Sesaat sampai di puncak, batu tersebut menggelinding, kembali ke bawah. Begitulah seterusnya, ia harus kembali mendorongnya dari bawah sampai ke puncak gunung, kembali menggelinding, mendorong lagi, dan menggelinding lagi.

Hal tersebut berlangsung bukan satu dua kali, bukan pula sejuta kali, tapi tak terbatas! 

Sisyphus hidup dalam penderitaan yang tak berujung, tapi ia tak memilih untuk mati. Pesan itulah yang ingin disampaikan oleh Albert Camus. Sekalipun hidup hanya berisi kepedihan siksa dan gelapnya jurang tak berujung, mau tak mau harus tetap dijalani.

Bunuh diri sebagai alternatif mengakhiri absurditas memanglah cukup dilematis. Pertama, manusia secara alamiah takut mengalami mati, bukan, tapi takut akan rasa sakit yang ditimbulkan oleh kematian. Sebetulnya, manusia tidak takut mati, ia hanya tak mau mengalami rasa pedih, tapi ketika kepedihan hidup sudah jauh melampaui dugaan sakitnya kematian, maka bunuh diri adalah masuk akal. Tapi poin penting yang patut digaris bawahi adalah manusia tak ingin mati, ia hanya ingin mengakhiri kepedihan dan dengan kematian ia bisa mendapatkan. Padahal kita tak pernah mengerti apa yang terjadi selepas kematian.

Kedua, ada bayang-bayang kehidupan pasca kematian yang belum tentu tak lebih pedih daripada kehidupan dunia. Ketiga, bukankah dengan bunuh diri akan menimbulkan kehancuran mental orang-orang terdekat yang menggap ia berharga. Tidakkah sama artinya menyebarkan virus absurditas dan nihilisme baru kepada orang lain yang ditinggalkan?

“Hidup adalah perlawanan terhadap absurditas” begitulah simpulan Albert Camus. Jika memang tak mampu mengakses sumberdaya kebahagiaan dan harus bergelut dengan kepedihan, menjalaninya dengan apa adanya merupakan sebuah pilihan.

Fasilitas kenikmatan bergaransi dari agama juga merupakan pilihan, jika anda tak naif untuk mengakui dan memilihnya. Terus mengalami kesengsaraan dalam berusaha mencapai kenikmatan hedonistis yang disediakan kapitalisme, pula merupakan pilihan. Streaming game atau menonton anime 7 x 24 jam tidak lain merupakan pilihan.

Akhir kata, hidup tak benar-benar bermakna, dan kesadaran akan kehidupan yang buruk, rusak dan tidak adil ini justru menciptakan absurditas dan nihilisme. Jika tak ingin mempercepat kematian, satu-satunya pilihan adalah menjalaninya dengan sedikit berharap mampu menggunakan fasilitas kebahagiaan dari pintu manapun. Tapi bukankah tidak buruk juga untuk benar-benar memilih kembali ke agama?

Kesimpulan
Tak panjang lebar untuk mengelaborasikan berbagai perspektif diatas, hidup itu isinya memang buruk. Dari banyak pandangan diatas, Epikuros, Leahy, Schopenhauer sampai Camus. Nyatanya sepakat bahwasannya hidup itu adalah pemenuhan dari suatu keburukan, yang mendasari naluri menerjemahkan kedalam suatu ketakutan. Dan nyata, kematian didasari atas ketakutan — dengan begitu seakan mereka sama-sama sepakat, meski dalam perspektif yang berbeda. Bahwasannya, satu hal yang pasti. Tak seorangpun yang bisa menghindari kematian, tapi tidak dengan menghindari ketakutan.

Comments

Terpopuler

Filsafat Ketuhanan

Demikian

Anatomi Negara (Murray N Rothbard)

Socrates : 'Bidan' Dari Athena

Pentingnya Pendekatan Filosofis Dalam Kehidupan Umat Beragama