Pentingnya Pendekatan Filosofis Dalam Kehidupan Umat Beragama

Penulis : Krismanuel Pasamboan
(Foto Istimewa)

AKADEMOS - Di tengah isu yang sedang marak tentang Covid-19, berbagai tanggapan dari kalangan fundamental lalu lalang di media.

Ada yang menyebutnya sebagai azab Allah, ada yang menyebutnya sebagai ramalan kitab suci sebagai tanda-tanda akhir zaman, bahkan beberapa waktu yang lalu saya menjumpai anggapan yang menyatakan Covid-19 adalah tantara Allah.

Tidak mengherankan jika mengacu pada pandangan-pandangan di atas, persoalan yang begitu merisaukan pikiran Albert Camus adalah pertanyaan tentang Tuhan dan adanya kejahatan serta penderitaan.

Bagaimana mungkin Tuhan mengizikan dan membiarkan kejahatan dan penderitaan berlangsung? Apakah Tuhan membangun dunianya di atas kesengsaaraan umat manusia.

Dalam filsafat persoalan itu dikenal dengan Theodise. Oleh Filosof Jerman Gottfrued Wilhelm Leibniz (1646-1716) Teodisie diartikan sebagai pembenaran Allah.

Secara sederhana artinya kejahatan dan penderitaan yang kelihatan semakin bertentangan dengan eksistensi Tuhan yang Maha Tahu, Maha Baik, Maha Kuasa.

Dan itu perlu dibenarkan dengan menganggap ini adalah azab Allah, atau ini adalah tanda-tanda akhir zaman atau ini adalah cara Allah untuk membawa manusia untuk kembali kapada kebenaran-Nya. 

Tetapi pembenaran-pembenaran yang demikian tidak dibangun di atas pikiran rasional.


Manusia Perlu Berpikiri Secara Rasional Tengang Ketuhanan

Berpikir secara rasional tentang konsep ketuhanan sejak semula merupakan obsesi tertinggi filsafat.

Setidak-tidaknya sampai kurun waktu 200 tahun yang lalu mengapai Tuhan dengan pikiran menjadi hasrat tertinggi filsafat.

Seluruh filsafat India berkisar pada suatu pertanyaan penting tentang apa yang sebenarnya menjadi dasar dari segala sesuatu. 

Filsafat Yunani, sekitar 2500 tahun yang lalu semua mendobrak keagamaan tradisional bersama dewa-dewinya dengan bertanya tentang hakikat dunia.

Sejak seratus tahun sebelum masehi, para bijak Yahudi di Iskandaria di Mesir sudah memikirkan tentang Sang Kebijaksanaan yang bersemayam di sisi Allah. 

120 tahun sesudah wafat Kristus, Justinus seorang teolog pertama yang memakai filsafat untuk membelah iman Kristen. Sekitar 300 tahun kemudian Agustinus, teolog sekaligus filosof abad pertengahan, membuka pintu lebar-lebar masuknya pikiran filosofis dalam Kristenitas. 

Dan hanya 200 tahun setelah Nuzulul Qur’an, kamu Mu’tazilla mengembangkan pemikiran kritis agar nalar dapat mengikuti apa yang diimani dalam hati.

Pada permulaan modernitas pun upaya untuk memberikan penalaran rasional tentang ketuhanan masih berada di puncak pemikiran filsafat nama-nama besar seperti Nicolaus Cusanus, Descartes, Pascal, Spinoza, Leibniz, Kant, Schelling, dan Hegel, dan masih menempatkan ketuhanan dalam puncak pemikiran.

Namun setelah munculnya pemikir empiris seperti Hobbes, Locke, Berkeley, dan Hume, mereka menyingkirkan pertanyaan tentang Tuhan demi pendekatan empiris. Dan Tuhan bukan objek ilmu alam.

Maka sesudah Hegel, dianggap garis filsafat ketuhanan sudah putus. Dan yang sebaliknya muncul di panggung filsafat adalah ateisme : Feuerbach, Marx, Nietzsche di abad ke-19, Sartre di abad ke-20.

Para  filosof atau umumnya masyarakat yang berupaya untuk menggugah nalar atau pikiran manusia terkait hal-hal yang melibatkan unsur keagamaan atau ketuhanan sering dianggap sombong,  yang tidak dapat secara serta-merta mengikuti sesuatu yang sudah di tradisikan melainkan mempertanyakannya.

Namun, paradigma ini menurut saya kurang tepat, kita mempertanyakan hal tersebut bukan karena kesombongan, melainkan didorong oleh rasa yang timbul dari dalam diri.

Dorongan itu ingin agar apa yang disadari oleh hati sebagai iman dimengerti pula oleh pikiran, sehingga perpaduan keduanya menghasilkan iman yang utuh dan bukan iman yang "pincang".

Iman yang utuh adalah iman di mana seluruh unsur kemanusian terlibat di dalamnya, termasuk juga pikiran, dan pikiran beriman dengan cara mengerti. 

Di kalangan umat beragama hari-hari ini muncul kecenderungan yang semakin menguat untuk menolak pemikiran rasional tentang Tuhan. Sikap yang menolak pemikiran rasional tentang Tuhan disebut fidesime.

Pada dasarnya fideisme beranggapan bahwa rasio manusia tidak bisa sampai pada Tuhan. Sikap seperti ini menguat di antara mereka yang berkecenderungan fundamentalisme. 

Fundamentalisme. berpegang pada arti harafiah dan ketidak-sesatan kitab suci. Kaum fundamentalisme. menolak pemikiran kritis tentang Tuhan. 

Mareka yakin bahwa bagi orang beriman tidak mungkin ada keraguan tentang imannya, dan mereka menolak penalaran manusiawi tentang Tuhan.

Namun tidak semua orang beragama berpandangan demikian. Banyak kaum theis termasuk juga teolog, yang memilih berposisi sebagai kaum moderat dimana memilih untuk mempertanggung jawabkan iman dan kepercayaan secara rasional.

Manusia perlu mempertanggung jawabkan imannya secara rasional lewat dua pendekatan. 

Pertama lewat pendekat teologi di mana iman dipertanggung jawabkan dengan cara dapat ditunjuk bahwa yang diimani serta kehidupan yang diajalani sesuai dengan sumber iman itu sendiri. Jadi secara teologis berdasarkan wahyu.

Pendekatan lain adalah mempertanggung jawabkan iman secara filosofis. Pendekatan ini mau menunjukan tentang rasionalitas iman, yang dilakukan dengan menggunakan pikiran. 

Misalnya dengan memeriksa konsistensi logis: apakah ada pertentangan di antara ajaran agama-agama itu, lalu menilai dari sudut pengetahuan tentang dunia dan masyarakat.

Pendekatan ini dirintis oleh Thomas Aquinas, tentang membedakan pendekatan filosofis dan pendekatan teologis. 

Pikiran Thomas Aquinas yang mengandalkan rasio atau nalar, tidak lagi semata-mata mencari jawaban atas segala pertanyaan dalam kitab suci.

Filsafat ketuhanan sebagai filsafat yang tidak mendasarkan diri pada ajaran atau wahyu agama tertentu, melainkan bertanya secara rasional tentang yang dapat dikatakan mengenai iman itu.

Secara sederhana mempertanggung jawabkan iman secara filosofis berarti bagaimana kepercayaan pada semua hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan dapat dijelaskan tampa menentang atau mengabaikan rasio manusia.

Persoalan kita hari ini di mana hampir setiap hari kita menjumpai media yang membawa berita tentang agama dan orang-orang berketuhanan adalah bagaimana ketuhanan dapat dihayati dengan cara yang tidak bertentangan dengan rasio dan kemanusian yang adil dan beradab.

Di tengah menguatnya sentiment keagamaan, munculnya diskrimasi kepada kaum minoritas, dan setumpuk persoalan lain tentang kehidupan beragama di negeri ini.

Persoalan-persoalan itu tidak akan dapat diselesaikan hanya dengan dalil kitab suci atau pendekatan teologis, melainkan refreksi kritis, penalaran rasional, dan pendekatan filosofis bisa menjadi jalan keluar untuk pesoalan keagamaan di Indonesia.

Comments

Post a Comment

Terpopuler

Filsafat Ketuhanan

Abstraksi Kematian Dalam Perspektif Filosofis

Demikian

Anatomi Negara (Murray N Rothbard)

Socrates : 'Bidan' Dari Athena