Demikian
PPenulis : Marcho Pomatu
(Foto Istimewa)
AKADEMOS - Seperti
baru kemarin aku dengar cerita tentang tembok yerikho, yang diruntuhkan lewat
bunyi sangkakala. Benar, cerita itu sungguh membebani nalarku. Rasio yang di
angung-agungkan sejak dulu seperti dihina ketika mendengar cerita seperti ini.
Namun,
aku tersadar mungkin sebagian dari cerita tersebut bukan bualan semata saja,
pertanyaan terbesit di benakku, apa sih yang bisa dibuat manusia? Sampai surga
membencinya?
Akhirnya
aku berkenalan dengan pandemi, salah satu musuh terbesar umat manusia setelah
perang nuklir, mungkin. Sampai saat ini, Bumi sudah bertemu dengan berbagai
macam pandemi dan seperti halnya sebuah pandemi, ia tidak membawa hal lain
melainkan kematian.
Lalu
otak manusiaku kembali mengola pertanyaan sederhana, bukannya dengan pandemi
ini jumlah populasi manusia bisa menurun? Dan itu hal yang baik jika di lihat
dari sudut pandang Bumi, yang mungkin tak pernah menjadi salah satu bagian dari
imajinasi kita selama ini. Kita bisa berandai-andai bagaimana bila Bumi bisa
berfikir kognitif, apa sih yang terbesit di pikirannya? Yang pasti itu bukan
kata pujian bagi manusia.
Oke,
mungkin wacana pengurangan penduduk terdengar ekstrim di zaman sekarang,
mungkin kita harus mencari sesuatu yang lebih ‘manusiawi’ untuk memaknai pandemi ini. Apakah ini waktunya
kita berbenah? Ataukah ini suatu tanda dari sesuatu yang lebih besar seperti
yang di tulis di agama-agama Abrahamik? Lucu, tapi ini mungkin tak perlu dicari
maknanya.
Baiklah,
ku bujuk lagi otakku berpikir dengan asupan kafein secukupnya yang dapat
kucerna. Psikologimu pasti sedang terganggu jika berpikir pandemi dapat
menyegarkan otakmu seperti yang di lakukan kafein. Tapi tiap orang punya
pandangan, aku tak bisa menghina opinimu walaupun aku mau.
Namun,
tak bisa kita pungkiri beberapa hal baik datang lewat pandemi ini, kau bisa
menikmati waktu luangmu di rumah dengan keluargamu tentunya, atau menikmati
udara sejenak setelah selama ini kau hanya menghirupnya tanpa tau beberapa hal
baik tentangnya. Oke, mungkin saat ini kau bersyukur karena waktu luang yang dihadiahkan
padamu. Tapi tunggu dulu, dunia tak ingin kau bersantai ria seperti itu. Ada
beberapa hal yang pasti kau lupa, benar kau bukan sebuah alga atau sebuah pohon
yang dapat hidup tanpa mencari makan, sampai kau menyadarinya, pasar telah
memalingkan wajahnya darimu dan kau mungkin sempat berpikir bahwa Marx mungkin
benar.
Benar
kau butuh bekerja, tidak hanya untuk memenuhi nubuatan di taman eden, tapi juga
realitasnya, perutmu tak akan terisi tanpa kau berkeringat. Kau ingin bekerja,
namun kau malah takut dengan virus itu atau kau malah ingin jadi warga negara
yang baik dan mengikuti kebijakan pemerintah untuk mengekang insting sosialmu
sementara.
Baiklah
kuberitahu padamu, negara ini tak memberikan ganti rugi berkat ikhtiar baikmu yang
tak ingin bekerja, demi menjaga tidak berkembangnya pandemi ini. Lalu wajahmu
muram, kau mulai berpikir akan menyantap apa besok, lusa dan seterusnya.
Bebanmu
bertambah dengan mengingat beban UKT (Uang Kuliah Tunggal) anakmu yang harus
kau bayarkan pada Universitas, yang mungkin takkan juga berkompromi denganmu
walau penghasilanmu mulai memudar. Kaupun memutar otak dengan berencana
mengeluh kepada pemerintah dengan begitu banyak keluhan yang sudah kau susun
rapih.
Kemudian
kau tersadar, kau bukan satu-satunya yang mengalami musibah ini, orang-orang di
berbagai tempat mulai membagi keresahannya masing-masing, namun jawaban
pemerintah begitu sederhana dan sangat familiar di telinga, ‘sudah, kalian diam
saja dulu di rumah, patuhi aturan dan jangan gegabah, nanti pasti ada bantuan’.
Tutup jubir pemerintah, sembari mempersiapkan kepentingan yang lain.
Sampai
disini aku ingin membuat kesimpulan atau apapun itu kau menyebutnya. Aku bukan
sebuah bilangan biner jadi jangan berharap banyak dariku.
Begitulah
ketika sampai di titik nadirnya, manusia akhirnya terlihat menarik, banyak hal
yang terjadi di masyarakat yang memaksa insting manusia berkembang lagi, dan
menurut hematku, manusia mulai kehilangan esensinya sebagai manusia karena selama
ini selalu terpaku memenuhi kebutuhan biologisnya dan menjadi orang asing di
ceritanya sendiri.
Satu
lagi yang ingin ku sampaikan, tolong jangan jalani hidupmu begitu absurd.
Lahir, bekerja lalu mati adalah landasan hidup, tambahkanlah remah-remah manis
di perjalanan hidupmu, walau benar dunia begitu kejam dan tak adil, namun ia
juga begitu indah.
Jadi
jangan sia-siakan hidupmu meratapi hal bodoh seperti pandemi atau apapun itu.
Biar pikiranmu terisi dengan hal-hal naif karena selain itu hanyalah nihilitas.

Comments
Post a Comment