Filsafat Ketuhanan
Penulis : Krismanuel Pasamboan

(Foto Istimewa)
AKADEMOS - Berpikir
secara rasinolal tetang konsep Ketuhanan sejak semula merupakan obsesi
tertinggi filsafat. Setikda-tidaknya sampai kurun waktu 200 tahun yang lalu
mengapai Tuhan dengan pikiran menjadi hasrat tertinggi filsafat. Seluruh Filsafat
india berkisar pada suatu pertanyaan penting tentang apa yang sebenarnya
menjadi dasar dari segala sesuatu. Filsafat Yunani, sekitar 2500 tahun yang
lalu semua mendobrak keagamaan tradisional bersama dewa-dewinya dengan bertanya
tentang hakekat dunia.
Seiring
perkembangan penghayatan pada konsep Ketuhanan, kepercayaan yang semua
didominasi pada kepercayaan pada dewa-dewi atau Tuhan yang berjumlah banyak,
atau dikenal dengan politeisme –dari kata Poly yang berarti
banyak dan theos yang berarti Tuhan— muncul pula satu penghayatan yang
sangat khas dan cukup belainan, suatu tradisi yang meyakini sebuah peristiwa
unik sebagai dasarnya : Allah, Yahweh memanggil nenek moyang mereka Abraham
(lih. Magnis Suseno 2006:37).
Pada
awal kemunculannya agama-agama Abrahamistik :Agama Yahudi, Agama Kristiani, dan
Agama Islam, pada permulaannya menolak filsafat. Kitab-kitap suci mereka hampil
kosong dari spekulasi filosofis. Sikap kitab-kitab wahyu yang khas adalah bahwa
kalau Allah sudah bicara, manusia tidak perlu memikirkan, melainkan
mendengarkan dan melakukannya. Namun abstinensi dari filsafat tidak berlangsung
lama. Didorong oleh perasaan manusia yang tidak hanya ingin taat, tapi juga
mengerti apa yang ditaatinya. Sejak abat pertengahan muncul sebuah motivasi daripada
filosof Kristen dengan semboyan fides quaerens intellectum atau iman
mencari pengertian.
Sejak
seratus tahun sebelum masehi, para bijak Yahudi di Iskandaria di Mesir sudah
memikirkan tentang Sang Kebijaksanaan yang bersemayam di sisi Allah. 120 tahun
sesudah wafat Kristus, Justinus seorang teolog pertama yang memakai filsafat
untuk membelah iman Kristen. Sekitar 300 tahun kemudian Agustinus, teolog
sekaligus Filosof abad pertengahan, membuka pintu lebar-lebar masuknya pikiran
filosofis dalam Kristenitas. Dan hanya 200 tahun setelah Nuzulul Qur’an, kaum
Mu’tazilla mengembangkan pemikiran kritis agar nalar dapat mengikuti apa yang
diimani dalam hati.
Tulisan
ini tdak bermaksut untuk menggugah exsistensi Ketuhanan, melainkan satu
pandangan keilmuan -- Seperti filsafat pada umumnya Filsafat Ketuhanan juga
dianggap sebagai ilmu – yang berupaya untuk memberikan pemahaman dan pengertian
pada nalar tentang Ketuhanan. Para filosof
atau umumnya masyarakat yang berupaya untuk menggugah nalar atau pikiran manusia
terkait hal-hal yang melibatkan unsur agama atau Ketuhanan sering dianggap
sombong dan angkuh, yang tak dapat
secara serta merta mengikuti sesuatu yang sudah di tradisikan melainakan
mempertanyaknnya. Namun, paradigma ini setidak-tidaknya menurut saya kurang
tepat, kita mempertanyakan hal tersebut bukan karena kesombongan atau
keangkuhan melainkan didorong oleh rasa yang timbul dari dalam diri, dorongan
itu ingin agar apa yang disadari oleh hati sebagai iman dimengerti pulah oleh
pikiran, sehingga perpaduan keduanya menghasilkan iman yang utuh dan bukan iman
yang “pincang”. Iman yang utuh adalah iman dimana seluruh unsur kemanusian
terlibat didalamnya, termasuk juga pikiran, dan pikiran beriman dengan cara
mengerti.
Perlu
digaris bawahi bawa berpikir atau menalar Tuhan bukan berarti menyelami rahasia
illahi, melainkan menyadari bahwa apa yang diimani disadari tidak bertentangan
dengan akal budi. Untuk menjadi orang beriman nalar tak perlu disangakal, perlu
dicatat ada dua filsof besar abad pertengahan yang juga seorang teolog besar,
Anselmus dari Catenrbury dan Thomas Aquinas, yang oleh orang katolik dihormati
sebagai Santo (orang Suci).
Pada
permulaan moderenitas pun pertanyaan tentang Allah masi berada di puncak
pemikiran filsafat sebut saja nama-nama besar seperti Nicolaus Cusanus,
Descarters, Pascal, Spinoza, Leibniz, Kant, Schelling, dan Hegel, masi
menempatkan Allah dalam puncak pemikiran. Namun setelah munculnya pemikir
empiris seperti Hobbes, Locke, Berkeley, dan Hume, menyingkirkan pertanyaan
tentang Tuhan demi pendekatan empiris. Dan Tuhan bukan objek ilmu alam. Maka
sesudah Hegel, dianggap garis Filsafat Ketuhanan sudah putus. Yang sebaliknya
muncul di panggung Filsafat adalah Ateisme: Feuerbach, Marx, Nietzsche di abad
ke-19, Sartre di abad ke-20, walaupun filsafat ateisme juga di tinggalkan di
abad ke 20, tapi tidak membatu pada Filsafat Ketuhanan. Fisafat sebagian besar
mengikuti putusan Wittegenstain bahwa “Tetang apa yang tidak dapat diperkatakan
orang harus diam” jadi sebagian besar sepakat bahwa Tuhan berada di luar
batas-batas rasinoal.
Sekali
lagi tulisan ini tidak dimaksutkan untuk mengguah eksistensi Tuhan, tidak juga
dalam kerangka untuk pembuktian ada atau tidaknya Tuhan, melainkan upaya untuk
membawa pengertian pada nalar, agar pikiran dapat mengikuti apa yang dimanai
dalam hati, sehingga seluruh unsur kemanusian terlihat dalam iman itu, menjadi
sebuah iman yang utuh. Dalam Filsafat Ketuhanan ada begitu banyak hal yang
dikaji secara filosofi, sebut saja, hakekat alam dan manusia, penghayatan
keagamaan, skeptisme pada konsep Ketuhanan, ateisme, agnostisisme, jalan-jalan
menuju Tuhan, dan masi banyak lagi. Semua hal itu tidak mungkin diurakan secara
lengakap namun beberapa point akan dijabarkan secara sederhana.
1. Mengapa
manusia perluh berpikir secara rasinol tentang Tuhan?
Manusia
pada dasarnya adalah mahluk yang bertanya. Tak ada satu halpun yang dapat
memuaskan kaingintahuan pada manusia atau membuatnya berhenti untuk bertanya.
Hanya dengan tahu manusia akan bertindak. Manusia tercipta dengan
wawasan yang tak terbatas, sehinggap pengetahuan yang ada takkan bisa memenuhi
cakrawala perhatiannya. Karenanya manusia akan terdorong untuk bertanya dan
terus bertanya.
Sekian
banyak pertanyaan tentang Tuhan yang masi tebuka, sekian banyak pertanyaan yang
diajukan oleh mereka yang diluar iman, karenanya para filosof selalu berpikir
secara rasional tentang Tuhan. Kaum Theis terangsang untuk merasionalisasikan
apa yang mereka imani. Mereka ingin percaya dengan seluruh kemanusian mereka
temasuk pikiran. Pemikiran filosofis tentang Tuhan disebut Filsafat Ketuhanan
sebuah ilmu tentang pemikiran objektif sistematik dan mendasar tentang Tuhan.
Dikalangan
umat beragama muncul kecenderungan yang semakin menguat untuk menolak pemikiran
rasional tentang Tuhan. Sikap yang menolak pemikiran rasional tentang Tuhan
disebut fidesime (lih. Leahy 1993:301), Pada dasarnya fideisme
beranggapan bahwa rasio manusia tidak bisa sampai pada Tuhan. Sikap seperti ini
menguat di antara mereka yang bekecenderungan fundamentalisme.
Fundamentalisme berpegang pada arti harafia dan ketidak-sesatan kitab suci.
(lih. Magnis Suseno 2006:20). Kaum fundamentalisme menolak pemikiran
kritis tentang Tuhan, mereka yakin bahwa bagi orang beriman tidak mungkin ada keragu-raguan
tentang imannya, dan mereka menolak penalaran manusaiwi tentang Tuhan. Namun
tidak semua orang beragama berpandangan demikian, banyak orang percaya dan
teolog yang memilih berposisi sebagai kaum moderat dimana memilih untuk
mempertanggung jawabkan iman dan kecercayaan secara rasional.
Manusia
perlu memepertanggung jawabkan imannya secara rasional lewat dua pendekatan,
yang pertama lewat pendekat teologi dimana iman dipertanggung jawabkan dengan
cara apabila dapat ditunjuk bahwa yang diimani serta kehidupan yang diajalani
sesuai dengan sumber iman itu sendiri. Jadi secara teologis berdasarkan wahyu.
Pendekatan
lain adalah mempertanggung jawabkan iman secara filosofis. Disini yang mau
ditunjukan adalah rasionalitas iman, dan dilakukan dengan memakai pikiran.
Misalnya dengan memeriksa konsistensi logis :apakah ada pertentangan diantara
ajaran agama-agama itu, lalu menilai dari sudut pengetahuan tentang dunia dan
masyarakat. Filsafat Ketuhanan sebagai filsafat yang tidak mendasarkan diri
pada ajaran atau wahyu agama, melainkan bertanya secara rasional tentang yang
dapat dikatakan mengenai iman itu. secara sederhana mempertanggung jawabkan
iman secara filosofis berarti bagaimana kepercayaan pada semua hal-hal yang
berkaitan dengan Tuhan dapat dijelaskan tampa menentang atau mengabaikan rasio
manusia.
2.
Moderenistas
: Skeptisme tentang Ketuhanan
Sekalipun
dahulu dalam peradaban manusia ditemukan berbagai bentuk penghayatan pada
Ketuhanan, namun satu kenyataan yang berlaku secara umum adalah tidak ada budaya
besar yang tidak berketuhanan. Dalam bentuk yang berbedah-bedah semua budaya
teresapi oleh satu keyakinan bahwa hidup mereka dalam lingkungan alami dan
sosial tak bermakna, bahkan tidak akan dapat dimengerti, kecuali mereka dan
lingkuangan itu ditempatkan dalam wawasan dimensi adi-duniawi.
Namun
situasi berubah sejak munculnya moderenitas. Sejak abad ke-17 orang mulai
meragukan Ketuhanan. Reformasi Protestan abad ke-16 sudah menolak klaim Grejah.
Dalam abad ke-17 epirisisme menuntut agar pengetahuan manusia didasarkan
pada pengalaman inderawi. Akhir abad ke-18 muncul filoso-filosof materialis
yang mengembalikan keanekaan bentuk kehidupan, termasuk manusia pada materi dan
menolak adi-duniwi. Dalam abad ke-19 dasar-dasar ateisme filofofis dirumuskan
oleh Feuerbach, Marx, Nietzsche, dan Freud dari sudut pandang Psikologi. Dan
pada awal abad ke-20 filsafat untuk sebagian besar menyangkal kemungkinan
mengetahui sesuatu tentang hal ketuhanan.
Sementara
dalam masyarakat modern sendiri Ketuhanan juga semankin tersingkir, diagantikan
oleh keasikan budaya konsumistik. Pengaruh perkembangan perdaban ini mendorong
orang-orang untuk skeptis tentang Ketuhanan, melahirkan pertanyaan : Apakah
kepercayaan pada Tuhan masi dianggap relevan? Apaka agama hanya sebuah tradisi
tua yang bertahan ribuan tahun? dan pandangan skeptisme lainnya.
Tulisan
dibawa ini berusaha meringkas dan menyederhakan perjalana moderenitas yang yang
membawa pada skptisme tentang Ketuhanan, penulis sadar ini belum memadai mengingat
topik yang begitu luas yang seharusnya masing-masing menjadi satu topik
tersendir yang dapat diulas secara detail dan mendalam, peralihan teosentrisme
ke antroposentrisme, biji-biji wawasan baru dari abad pertengahan, pengaruh
humanisme, masa Renaissance, Rasinalisme dan pencerahan, perkembangan
saince, perkembangan teknologi dan pengaruhnya terhadap Filsafat dan Teologi,
dll. mungkin di lain waktu akan diuraikan secara mendetail.
Suatu
pengaruh terbesar dalam perspektif manusia tentang dirinya sendiri berlangsung
di Eropa antara abad ke-13 dana Ke-17. Pada abad pertengahan manusia memandang
segala sesuatu dari sudut padang Allah, apapun yang dipertanyakan dinilai dari
sudut pandang bagaimana kaitannya dengan Allah yang menciptakan, mengarahkan,
mempertahankan, dan menyelamatkan manusia dan seluruh alam raya. Namun
berahirnya abad pertengahan kemudian mengubah pandangan itu dimana manusia
menjadi titik acuan manusia itu sendiri.apapun yang dipetanyakan dinilai dari
sudut pandang manusia, temasuk tentang Tuhan. Terjadi peralihan paradigma dari teosentrisme
(Theos = Allah dam Centrum = Pusat) ke paradigma antroposentris (anthropos
= manusia).
Hal
ini dipengaruhi oleh perkembangan intelektual bangsa Eropa, dengan diterimanya
filsafat Aristoteles sebagai kerangka filsafat utama Eropa Barat. Filsafat Asristoteles
yang dianggap sangat “duniawi” dibandingkan dengan filsafat Plato, memungkinkan
kaum intelektual Barat yang dirintis oleh Thomas Aquinas, membedakan pendekatan
Filosofis dan pendekatan Teologis. Pikiran Thomas Aquinas yang semata-mata
mengandalkan rasio/nalar, yang tidak lagi semata-mata mencari jawaban atas
segala pertanyaan dalam kitab suci, mulai berkembang.
Pada
abad ke-14 diteliti dan ditemukan kembali cita-cita kemanusian Romawi dan
Yunani pra-kristen. Tulisan-tulisan penting dicari, diteliti, diedit, teks
sastra juga diterjemahkan, seni klasik Romawi ditemukan kembali, memunculkan
seniman besar seperti Da Vinci, Michelangelo, Bernini. Cita-cita Republik Roma
yang diceritakan Plutarch (50-1255 M) mengilhami Machiavelli dan Rousseau.
Pemikiran Sokrates, Plato dan Stoa diperdamaikan dengan Moralitas Kristen.
Demikianlah
budaya eropa membebaskan diri dari perspektif budaya yang secara ekslusif
ditentukan oleh agama. Manusia ditempatkan di pusat perhatian. Sikap ini umumnya
didebut Humanisme. Sikap yang paling mencolok pada zaman Renaissance
(Renaissance = Kelahiran Kembali, karena menyaksikan kembali zaman
“Klasik” Yanani dan Romawi) berlangsung dari sekitar 1350 sampai kea bad ke-16.
Berkembang
keabad ke-17 “Pencerahan” menghiasi peradaban eropa, “pencerahan intelektual
dan revolusi-revolusi politik dan sosial” (Armstorng 2000:294). Sebutan
“pencerahan” berarti membuat budi manusia cerah, mengusir kegelepan, takhayul,
dan kepercayaan-kepercayaan irasional. Imanuel Kant (1724-1804) memberikan
definisi yang tepat dan sangat bagus “pencerahan adalah keluarnya manusia dari
ketidakdewasaan yang disebabkan dirinya sendiri. Ketidakdewsaan adalah ketidak
mampuan untuk memakai nalar tampa bimbingan orang lain. Ketidakdewasaan itu
salahnya sendiri apabila sebab musebabnya bukanlah kekurangmampuan untuk
bernalar, melainkan kurangnya tekat dan keberanian untuk memakai nalar tampa
bimbingan orang lain. Sapere aude! Beranilah menggunakan pikiran sendiri,
semboyan pencerahan (weger, 111).
Tuntutan
pencerahan untuk memakai pikiran sendiri menolak mempercaya hal yang semata-mata
karena tradisi atau dipermaklumkan oleh penguasa dunia dan rohani. Ditemukannya
kembali kebudayaan klasik, manusia dijadikan pusat pikiran manusia sendiri. Dan
dan grejah berhadapan dengan bebagai masalah termasuk kekejaman yang luar biasa
atas nama agama. Kemudian menjadi alasan semakin skeptisnya dunia barat
terhadap keagamaan.
3.
Ateisme
dan Agnostisisme
Setelah
sekilas melihat bagaimana menyingsingnya moderenitas melahirkan skeptisisme
tentang keAllahan. Maka tak mengherankan bahwa filsafat abad ke-19 dan ke-20
memunculkan pemikiran ateisme, dan agnotisisime.
Dalam
hal ini kita akan melihat model ateisme dari Ludwig Feuerbach dan model agnostisisme
filosofi :positivisme logis yang menyangkal makna wacana metafisika
dan etika.
a)
Kritik
agama Feuerbach
Ludwig
Feuerbach (1804-1872) semula ingin menjadi pendeta protestan, namun sedikit miris
karena justru kemudia menjadi tokoh ateis yang paling terkemuka. Semula Feuerbach
adalah murid Hegel, namun lama kelamaan ia mulai tidak dapat menerima pikiran
Hegel.
Menurut
Hegel (1770-1831) dalam kesadaran manusia, Allah mengungkapkan diri. Bagi Hegel
roh semesta adalah pelaku sejarah yang sebenarnya, para manusia tidak sadar
mereka di dalangi olehnya. Gagasan Hegel ini menjadi sasaran utama kritik
Feuerbach. Menurut Feuerbach, Hegel memutar balikan kenyataan. Hegel memberi
kesan seakan-akan yang nyata adala Allah
(yang tidak kelihatan) sedangakan manusia (yang kelihatan) hanyalah
wayang. Padahal yang tak terbantahkan adalah manusia. Bukan manusia itu pikiran
Allah, melainkan Allah adalah pikiran manusia, dan roh semesta hanyalah berada
sebagai objek pikiran manusia. Menurut Feuerbach juga bahwa realitas yang tak
terbantahkan adalah pengalaman indrawi dan bukan pikiran spekulatif. Inti
kritik Feuerbach adalah bahwa bukanlah Allah yang menciptakan manusia, melaikan
sebaliknya Allah adalah citaptaan manusia, Agama adala Proyeksi manusia.
Feuerbach
mau mengatakan bahwa agama adalah penyembahan manusia terhadap hasil ciptaanya
sendiri, namun tidak disadari lagi sebagai itu. yang sebenarnya hanya
angan-angan dianggap mempunya eksistensi pada dirinya sendiri. Maka manusia
merasa takut dan perluh menyembah dan menghormati Allah.
Feuerbach
juga beranggapan bahwa agama mengungkapkan keterasingan manusia pada dirinya
sendiri. Feuerbach menguraikannya begini “agama, sekurang-kurangnya agama
Kristen, adalah kelakuan manusia terhadap dirinya sendiri, lebih tepatnya :
terhadap hakekat manusia sendiri akan tetapi kelakuan terhadapa hakekatnya
sendiri terhadap mahluk lain. Hakekat illahi bukan lain hakekat manusia;
hakekat manusia yang dipisahkan dari batas-batas manusia individual, jadi
nyata, jasmani, yang diobjektifkan artinya dipandang dan dipuja sebagai mahluk
lain yang berbeda daripadanya – maka dari itu semua ciri illahi adalah ciri
hakekat manusi” (dikutip dari Weger 121)
Bagi
Feuerbach nilai positif agama karena merupakan proyeksi hakekat manusia. Dalam agama, manusai melihat siapa dirinya
misalnya dia kuasa, kreatif, berbelaskasihan, saling menyelamatkan dll. Namun
celakanya karena manusia lupah bahwa itu adalah proyeksi adalah dirinya
sendiri. Manusia begitu terkesan sehingga menganggapnya sebagai suatu realitas
tersendiri yang mandiri, sebab itu manusia menjadi takut dan menyembahnya.
b)
Tanggapan
pemikiran Feuerbach.
Menarik
pemikiran dari pada Feuerbach, ia menjadi orang pertama yang memberikan
pendasaran ilmia tentang ateisme, pemikiran ini akan dikutip dan dipakai para
filosof ateis sesudahnya (Marx, Nietzsche dkk). Namun pertanyaanya sejauh mana
kritik Feuerbach kena?
Apakah
benar bahwa agama tidak lebih dari proyeksi manusia? Menurut saya tidak ada
ruginya mengakui bahwa dalam agama mudah ditemukan unsur-unsur yang mencerminkan
cita-cita, prasangka, dan emosi manusia. Banyak hak yang dipercayai dilakukan
atas nama agama namun sebenarnya tidak ditemukan dalam wahyu melainkan hanya
interpretasi atau tambahan kontekstual kemudian. (contoh sebut saja peringatan
hari Natal misalnya). Munculnya institusionalisasi dalam agama-agama bekembang
kemudian. Setidaak-tidaknya dalam itu Feuerbach ada benarnya, dan tak ada
salahnya mengakui itu. mengakui kenyataan ini mungkin sangat baik bagi
pembaharuan dan pemurnian agama-agama.
Akan
tetapi jika dikatan tidak lebih mungkin sedikit terkesan terburuh-buruh.
Satu pertanyaan yang tidak akan dibedah disini adalah pertanyaan dasar dan
sangat penting. Yaitu apakah ada Allah atau tidak? Andaika semua unsur
keagamaan itu adalah proyeksi manusia, pertanyaan itu tetap tidak tersentuh.
Namun jika andaikata Allah ada maka runtuhlah semua kritik Feuerbach,
anadaikata Allah memang ada dan menciptakan dunia dan seluruh isinya, maka
wajar jika manusia menyembah, menghormati, dan meminta pertolongan-Nya. Dan Andaikata
Allah ada maka agama tidak membawa manusia pada keterasingan dari dirinya
sendiri seperti kata Feuerbach, manusia justru akan menemukan dirinya jika ia
menemukan Allah yang adalah penciptanya. Kritik yang juga umum digunakan untuk
membatah teori Feuerbach adalah teori proyeksi. Namun kritik itu tidak akan
diurakan disini.
c)
Agnostisisme
Filsafat
abad ke-20 untuk sebagaian besar mengesampingkan hal Tuhan –mungkin harus
dikecuwalikan kalangan agama seperti Neo-Thomisme, dan Filosof Yahudi Emanuel
Levinas dan Hans Jonas – pada dasarnya ada empat model agnostisisme filosofi :
Epistimologi Kant, Posisitivisme logis, penerapan prinsip falsifikasi Popper
pada hal ketuhanan oleh Antony Flew dan penolakan kemungkinan sebuah pendasaran
akhir oleh Hans Albenrt.
Agnostisisme
lebih lunak daripada ateisme, agnostisisme tidak menolak adanya Tuhan, malahan
menyangkal menyebut Tuhan sebagai ketinggalan zaman. Agnostisisme tidak mengakui rasionalitas wacana Tuhan.
Orang boleh percaya pada Tuhan, tapi Kepercayaan dianggap hal yang bersifat
pribadi, yang ditolak oleh agnostisisme adalah bahwa ketuhanan dapat
dihubungkan dengan claim kebenaran.
Contoh
sederhana dalam pandangan positivisme logis sebut saja tokoh-tokoh
terkenal seperti Moritz Schlick, dan Rudof Carnap dll. Mereka terobsesi
membersihkan filsafat dari masalah-masalah semu dengan Analisa Bahasa sebagai
pembersihan. Menurut positivisme logis hanya ada dua macam kalima yang
mempunyai arti rasional artinya ditunjuk bisa benar dan salah, kalimat murni
analitis dan pernyataan empiris. Kalimat analitis temasuk diantaranya logika,
ilmu ukur, dan ilmu pasti, sedangkan pernyataan empiris maksudnya kalimat yang
dapat dicek kebenaranya berdasakan pengalaman inderawi. Secara sederhana dapat
dirumuskan bahwa dalam positivisme logis hanya kalimat logika dan
matematika dan kalimat yang dapat dibuktikan secara indrawi yang mempunyai
arti, yang lainnya tidak sah dan tidak punya arti dan hanya berdasarkan
kekacaun dalam pemakaian bahasa (Magnis Suseno 2006).
Dalam
pandangan diatas tentu dapat kita simpulakan bahwa etika dan metafisika tidak
mempunyai arti. Penyataan tentang Tuhan pun demikian sebab takdapat dibuktikan
berdasarkan pengalaman iderawi. Sekalipun pandangan ini juga banyak menuai
kritik tajam yang tidak akan dijelaskan disini. Namun pandangan ini cukup
menggambarkan bagaimana pandangan penganut agnostisisme terhadap Ketuhanan.
4.
Tuhan
dan adanya kejahatan dan penderiaan
Suatu
pertanyaan penting yang mungkin sering diperdebatkan juga ketika berbicara
filsafat ketuhanan adalah tentang Tuhan dan adanya penderitaan dan kejahatan.
Pandangan ini begitu mencolok daripada model ateimes Albert Camus.
Bagi
Camus ciri paling dalam dunia manusia adalah absurfitasnya. Dunia ini
dan hidup manusia didalamnya tidak masuk akal. Dunia berjalan terus dan manusia
mati. Pengalaman dasar manusia adalah penderitaanya. Keabsurdan itulah
bagi Camus tandah bahwa Allah tidak ada. Kalau Allah ada tak mungkin dunia pengalaman
manusia itu absurd. Lalu mesti ada maksud dibelakang, mesti ada rasionalitas
dalam keanehan. Padahal itu tidak ada, ateisme Camus dkelihat sebagai implikasi
masalah adanya penderitaan dan kejahatan dalam dunia.
Penderitaan
dan kejahatan itu tidak masuk akal, tidak dapat seakan-akan diperdamaikan dalam
sebuah kerangka lebih luas. Maka tak mungkin dunia ini diciptakan Allah, tak
mungkin kita ditangan Allah. Bagi Camus penderitaan dan kejahatan itu tidak
masuk akal, misalnya karena merupakan komponen rencana keselamatan Allah, hal
itu adalah tidak dapat diterima.
Dalam
tradisi filsafat persoalan ini disebut “masalah theodise”. Menurut Leahy
kenyataan antara banyaknya kejahatan dan penderitaan didunia ini penyebab utama
keraguan tentang apa yang diimani sebagai kebenaran, dan merasa mau meberontak
melawan Allah (Leahy 1993:269). Masalah ini pertama kali disebut masalah Teodise
(Theos = Tuhan dan Dike = Keadilan) oleh Filosof Jerman Gottfrued Wilhelm
Leibniz (1646-1716) Teodisie diartikan sebagai pembenaran Allah. Secara
sederhana artinya kejahatan dan penderitaan kelihatan semakin bertentangan
dengan eksistensi Tuhan yang Mahatahu, Mahabaik, Mahakuasa dll. Sehingga
sekan-akan perlu dibenarkan.
Mengurai
masalah ini memang tidaklah gampang, bahkan setidak-tidaknya menurut saya
kejahatan yang dizinkan berlangsung oleh Yang Maha Kuasa tidak mungkin dapat
dimengerti secara nalar. Mungkin pada titik inilah batas kemungkinan mahluk dapat
memahami motivasi Sang Khalik.
Namun
sekurang-kurangnya kita dapat mengatakan bahwa hal ini tidak serta merta
membuktikan ketiadaan Tuhan. Yang melakukan kejahatan adalah manusai dan bukan
Allah.dan Allah mengizinakan itu terjadi meskipun Ia menolaknya. Kemudian kalau
Allah mau menciptakan sesuatu maka sangat masuk akal kalau Allah
menciptakan manusia itu sebagai mahluk berakal budi. Tetapi mahluk berakal budi
dengan sendirinya menjadi mahluk yang bebas. Bagi Allah menciptakan manusia
seperti robot-robot yang secara otomatis berbuat sesuai kehendakNya tidak
memiliki nilai apapun.tetapi hal itu mengandung resiko bahwa manusia berpotensi
melakukan sesuatu hal diluar kehendaknya dan menantang penciptanya dan
terjadilah yang disebut kejahatan.
Dapat
dikatakan bahwa kesediaan untuk bersikap jahat berakar dalam tekat manusia
untuk memutlakan kebebasan terbatas yang dimilikinya, untuk memutlakkan diri.
Menurut Weissmahr manusia yang mau melakukan kejahatan, mau mendewakan diri. Ia
yang tidak mutlak dan terbatas menempatkan diri sebagai sebagai mutlak
Weissmahr (dalam Magnis Suseno 2006:220),
Hal
yang lain yang tidak kalah penting adalah mengenai penderitaan. Dalam
diskusi-diskusi yang umum dibicarakan adalah masalah kejahatan. Tapi menurut
saya yang jutru lebih penting adalah tetang mengapa Allah dapat mengizinkan
penderitaan?. Masaalah Allah mengizinkan dosa atau kejahatan, bisa dikatakan
itu masalah Allah sendiri. Bukan kita yang perlu pusing tentang mengapa Allah
yang Maha Suci mengizinkan manusia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan
kesucianNya.
Tapi
lain soal dengan penderitaan. Dalam penderitaan kitalah yang kena. Tentu
pertanyaan. Bagaimana Allah mengisinkan 2000 orang lebih meninggal secara sadis
karena virus corona. Apakah Allah membangun duniaNya diatas penderitaan orang
yang tidak bersalah. Masalah ini diberi rumusan baku oleh Epikuros 2000 tahun
yang lalu. Dengan sederhana Epikuros menjelakan 4 kemungkina: Allah mau
menghapus keburukan dunia tapi tidak mampu; atau Ia mampu dan tidan mau; atau
Ia tidak mau dan tidak mampu; atau Ia mau dan mampu (Leahy 1993,270) tiga
kemungkinan pertama tentu saja tidak dapat diterima karena bertentangan dengan
hakekat Allah. Tapi kemungkinan ke empat sangat berbedah dengan realitas yang
dijumpai di kehidupan manusia.
Leahy
juga menulis bahwa semakin berkembang perasaan dan kesadaran manusia semakin besar pula
kemampuannya untuk menderita (Leahy 1993:273). Begitu pula manusia sebagai
mahluk hidup dengan sendirinya “lemah dan mudah terluka” dan karen kodratnya
“tidak luput dari kehausan, ketuaan, dan kematian” (Ib.) karena itu
kemungkianan untuk menderita jelas merupakan kodrat manusia. Perlu diperhatikan
bahwa Allah tidak dapat menciptakan dunia dan manusia tampa membuka kemungkinan
terjadinya keburukan, kejahatandan dosa, hal itu tidak berarti Allah tidak Maha
kuasa. Allah tidak dapat menciptakan sesautu yang pada dirinya bertentangan.
Misanya batu yang sedemikian berat sehinggal Allah sendiri tidak dapat
mengangkatnnya. Bahwa Allah “tidak bisa” menciptakan sesuatu yang bertentangan
dengan dirnya tidak mengurai kemahakuasaanNya melaikan karena berakar dari
konsistensi Allah pada kemengadaanNya (Magnis Susesno 2006:226)
Menutup
tulisan ini saya kutipkan suatu pertanyaan terkenal dari Boethius Filosof
paca-Romawi (480-524) berbunyi “Si quidem deus est, unde mala? Bona vero
unde, si non est?” (Apabilah ada Allah ada darimana hal-hal buruk? Tetapi
darimana hal-hal baik kalau Allah tidak ada?).
👍
ReplyDelete